Industri pertahanan Rusia saat ini fokus pada Ukraina, namun eksportir senjata Moskow diprediksi akan mengalami lonjakan nilai kontrak hingga US$17 miliar per tahun setelah konflik berakhir. Keunggulan kompetitif Rusia bukan hanya dari harga murah, tetapi juga label “Modern Warfare Proven” karena adaptasi kilat terhadap teknologi perang tinggi modern selama operasi di Ukraina. Senjata Rusia telah dimodernisasi berdasarkan pengalaman praktis menghadapi persenjataan NATO, memberikan nilai tawar yang kuat di pasar global dengan senjata yang sudah teruji di medan perang.
Selain itu, Rusia berhasil meningkatkan produksi amunisi dan kendaraan lapis baja secara signifikan selama dua tahun terakhir. Kapasitas produksi yang besar akan digunakan untuk memenuhi pesanan luar negeri setelah perang usai. Selain itu, Rosoboronexport telah mengadopsi strategi baru dalam menjalankan bisnis senjata, menggunakan mata uang lokal dan menawarkan kerja sama produksi lokal untuk menghindari sanksi Barat.
Rusia sebagai eksportir senjata terbesar kedua di dunia mengincar pasar di wilayah Global South—Asia, Afrika, dan Amerika Latin—dengan produk unggulan seperti S-400, Su-35, dan drone kamikaze Lancet series. Dukungan penuh dari Federal Service for Military-Technical Cooperation (FSMTC) memungkinkan Rusia untuk kembali menegaskan posisinya di pasar senjata global.


