Angkatan Darat Inggris akan menunggu lebih lama untuk mengoperasikan tank tempur utama terbaru mereka, Challenger 3. Rencana awal untuk Initial Operating Capability (IOC) telah mundur dari target semula. Hal ini dikonfirmasi oleh Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) dan juga disampaikan di parlemen. Alasan penundaan ini antara lain adalah kesulitan teknis dalam mengintegrasikan turret baru ke dalam sasis Challenger 2, kendala dalam rantai pasokan komponen elektronik dan material baja khusus, serta adanya tinjauan ulang pertahanan yang mempengaruhi arus kas proyek-proyek besar.
Proyek Challenger 3 melibatkan konversi 148 unit Challenger 2 menjadi standar Challenger 3, dilakukan oleh Rheinmetall BAE Systems Land (RBSL). Sejarah Challenger 3 berawal dari kebutuhan untuk memodernisasi Challenger 2 yang sudah bertugas sejak tahun 1998. Perubahan ancaman global mendorong Inggris untuk melakukan total makeover pada tank ini, sehingga dinamakan Challenger 3.
Challenger 3 diharapkan menjadi salah satu tank paling mematikan di Eropa, dengan keunggulan seperti menggunakan meriam Smoothbore NATO dan sistem komunikasi digital terbuka. Tank ini juga dilengkapi dengan sistem Trophy APS buatan Israel dan penglihatan termal generasi terbaru. Meskipun mengalami penundaan, Challenger 3 tetap diharapkan menjadi tulang punggung Angkatan Darat Inggris hingga tahun 2040-an. Penundaan tersebut dianggap sebagai langkah yang berisiko, namun penting untuk memastikan kesiapan tank di medan tempur yang semakin berbahaya.


