Friday, January 23, 2026
HomenasionalPolemik Gerakan Rimpang: Kritik Militerisme atau Instrumen Kepentingan?

Polemik Gerakan Rimpang: Kritik Militerisme atau Instrumen Kepentingan?

Gerakan Rimpang, sebuah istilah yang semakin populer dalam diskursus publik nasional, dipandang oleh sebagian kalangan sebagai gerakan sosial baru yang menolak militerisme dan mengkritisi Undang-Undang TNI. Diklaim sebagai representasi kekhawatiran kaum muda terhadap masa lalu yang kelam dan kekuatan dominan negara, gerakan ini mendapat sorotan intens. Namun, tidak sedikit pertanyaan kritis muncul dari sejumlah pengamat dan masyarakat sekitar. Mereka ingin menggali sejauh mana gerakan ini benar-benar berasal dari aspirasi rakyat biasa, dan sejauh mana ia dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu yang tidak senang dengan arah politik saat ini.

Muncul istilah “Gerakan Rimpang Bau Kencur” sebagai bentuk kontra-kritik terhadap gerakan ini. Hal ini mengemuka atas keraguan terhadap kedewasaan agenda, konsistensi ide, dan kemungkinan adanya pihak-pihak yang mencoba memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Dalam konteks tersebut, penting untuk memahami konsep yang melandasi Gerakan Rimpang. Dalam filsafat politik, konsep rimpang atau rhizome, yang dikenalkan oleh Gilles Deleuze dan Félix Guattari, diartikan sebagai struktur yang tanpa pusat, menyebar, dan tidak hierarkis. Analogi ini digunakan untuk menjelaskan sifat gerakan sosial yang cair, tanpa pemimpin, dan melintasi berbagai komunitas.

Meskipun banyak pihak menggambarkan Gerakan Rimpang sebagai bentuk perlawanan generasi muda terhadap kekuasaan, ada juga yang skeptis. Mereka mencatat bahwa struktur tanpa pemimpin formal tidak selalu berarti tanpa kontrol. Banyak gerakan global sejenis sebelumnya dikritik karena sebenarnya memiliki aktor-aktor yang menggerakkannya di balik layar dan menentukan arah gerakan tersebut. Itulah sebabnya, meski Gerakan Rimpang menarik perhatian, tetap diperlukan tinjauan kritis dan pemahaman yang mendalam untuk melihat jelas siapa sebenarnya yang berada di belakangnya.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER