Pada era Perang Dingin, Uni Soviet memproduksi kapal selam yang unik dan canggih, seperti K-222 yang dikenal sebagai Papa Class. Kapal selam ini merupakan bagian dari proyek ambisius Project 661 Anchar yang dimulai pada tahun 1959. K-222 dibuat dengan lambung dari titanium, menjadikannya kapal selam pertama yang menggunakan material tersebut. Didukung oleh reaktor nuklir V-5R, K-222 mampu mencapai kecepatan bawah air legendaris 44,7 knot, sebuah rekor yang belum terpecahkan hingga saat ini.
Dengan dimensi proporsional, panjang 106,9 meter dan lebar 11,5 meter, K-222 memiliki bobot 5.197 ton saat di permukaan dan 7.000 ton saat menyelam. Meskipun memiliki kecepatan yang luar biasa, kapal ini memiliki kelemahan dalam endurance karena pasokan logistik untuk awaknya terbatas.
Sebagai pembunuh kapal induk, K-222 dilengkapi dengan sepuluh tabung peluncur rudal jelajah anti-kapal P-70 Ametist. Namun, kecepatannya membuatnya mudah terdeteksi oleh sonar musuh saat melaju di atas 35 knot. Operasional K-222 singkat karena biaya perawatan yang tinggi dan kebisingan yang dihasilkannya.
Meskipun sudah tidak beroperasi dan dihancurkan pada tahun 2010, K-222 tetap menjadi bukti keunggulan rekayasa Uni Soviet dalam menghasilkan kapal selam canggih. Perbedaan dengan Kapal Selam Kelas Lira adalah dalam filosofi desain, ukuran, dan teknologi mesinnya. Meskipun Kecepatan K-222 lebih tinggi, Kelas Lira lebih lincah dan sulit dimanuver oleh torpedo lawan. Sebagai kapal selam yang hanya diproduksi satu unit, K-222 tetap abadi dalam sejarah sebagai karya unik dari masa Perang Dingin.


