Gedung Putih kembali memanas setelah Spanyol dan Inggris menolak terlibat dalam operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Keputusan ini memicu kemarahan Presiden Donald Trump, menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap komitmen pertahanan kolektif NATO di tengah eskalasi konflik di Samudera Hindia dan Timur Tengah. Pedro Sánchez dan Sir Keir Starmer dari Spanyol dan Inggris secara terbuka menyatakan bahwa negara mereka tidak akan memberikan dukungan logistik. Spanyol menutup pangkalan militer strategis di Rota dan Morón untuk misi seputar serangan ke Iran, mengenyampingkan solusi diplomatik. Sementara Inggris memilih fokus pada perlindungan kapal dagang di Selat Hormuz daripada serangan militer ke Iran. Dalam mengambil langkah-langkah ini, kedua negara ini menghadapi kemarahan Trump dan mengancam keutuhan NATO secara keseluruhan. Krisis kepercayaan ini menunjukkan adanya pergeseran kekuatan dunia di mana sekutu AS kini lebih berani menjaga kepentingan nasional mereka daripada hanya mengikuti Amerika Serikat. Semua pihak menunggu bagaimana pertikaian ini akan berkembang, apakah akan berujung pada sanksi ekonomi atau justru membawa kedua belah pihak kembali ke meja perundingan untuk mencegah perpecahan di tubuh NATO.


