Wednesday, December 17, 2025
HomeMiliterCina Gunakan Lapisan Loofah Mesir Kuno pada Jet Tempur

Cina Gunakan Lapisan Loofah Mesir Kuno pada Jet Tempur

Sebuah tim peneliti gabungan di Cina telah mengembangkan material lapisan siluman revolusioner yang dapat secara efektif melindungi jet tempurnya dari deteksi oleh satelit radar berbasis ruang angkasa. Lapisan ultra tipis penyerap gelombang mikro ini diklaim mampu menyerap gelombang elektromagnetik yang datang dengan tingkat efisiensi yang nyaris sempurna. Material inovatif ini dikembangkan oleh tim ilmuwan dari People’s Liberation Army (PLA) dan China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC).

Publikasi penelitian ini menjadi kejutan karena material intinya adalah loofah (atau Luffa aegyptiaca). Loofah adalah labu berserat, yang ketika dikeringkan, menghasilkan spons alami dengan tekstur seperti jaringan busa atau serat yang saling terhubung. Orang Mesir kuno telah menggunakannya hampir 2.000 tahun yang lalu sebagai bahan pembersih. Namun, dalam inovasi militer Cina ini, loofah dialihfungsikan menjadi perancah penyerap gelombang mikro.

Rahasia keberhasilan material ini terletak pada arsitektur alami loofah—jaringan 3D serat selulosa yang saling terhubung. Struktur alami inilah yang menjadi kunci untuk menanggulangi gelombang elektromagnetik. Untuk mengubah spons alami ini menjadi material siluman berteknologi tinggi, tim peneliti Cina melakukan proses kimia yang canggih. Loofah kering diubah menjadi karbon melalui proses hidrotermal dan karbonisasi pada suhu tinggi, menghasilkan perancah (scaffold) konduktif yang ringan, menyerupai hutan mikroskopis.

Perancah karbon ini kemudian dilapisi dengan nanopartikel magnetik nikel kobalt oksida (NiCoâ‚‚Oâ‚„), yang menghasilkan komposit akhir yang diberi nama NiCoâ‚‚Oâ‚„/C (atau dijuluki NCO-2). Komposit NCO-2 yang dihasilkan memiliki ketebalan hanya 4 milimeter (0,14 inci). Para peneliti menjelaskan bahwa penambahan partikel NiCoâ‚‚Oâ‚„ tidak hanya meningkatkan sifat kerugian magnetik komposit tetapi juga mengoptimalkan kecocokan impedansi.

Material NCO-2 menunjukkan kinerja yang dramatis dalam uji coba laboratorium, yang mana material komposit ini menyerap lebih dari 99,99 persen gelombang elektromagnetik yang datang pada pita Ku kritis (gelombang yang beroperasi antara frekuensi 12 dan 18 GHz) Kemampuan penyerapan ini setara dengan mengurangi intensitas sinyal radar yang dipantulkan hampir 700 kali lipat. Gelombang elektromagnetik yang mengenai material memantul tanpa henti di dalam pori-pori yang menyerupai labirin. Proses ini menciptakan banyak pantulan internal dan memberi material lebih banyak waktu untuk menyerap energi.

Loofah yang telah dikarbonisasi membentuk jaringan konduktif, yang memungkinkan elektron bergerak bebas dan mengubah energi gelombang mikro menjadi panas melalui konduksi. Komposit NCO-2 yang mampu mempertahankan kinerja optimal bahkan ketika pancaran datang langsung dari atas, memberikan keuntungan strategis yang signifikan. Ini berarti pesawat siluman dengan Radar Cross-Section (RCS) vertikal 50 meter persegi dapat secara efektif menyusut menjadi kurang dari 1 meter persegi, sehingga jauh lebih sulit dideteksi oleh radar berbasis ruang angkasa yang memindai dari atas.

Terobosan material yang tahan panas dan super-penyerap ini memiliki dampak strategis langsung terhadap armada siluman Cina, terutama jet tempur generasi kelima andalan mereka, seperti Chengdu J-20 Mighty Dragon dan Shenyang J-35. Selama ini, lapisan penyerap radar (Radar Absorbent Material – RAM) adalah titik lemah jet siluman. Gesekan udara pada kecepatan tinggi (Mach 1.5+) menghasilkan panas yang membuat lapisan RAM tradisional cepat terdegradasi atau bahkan terkelupas, sehingga jet harus menjalani perawatan intensif.

Dengan material berbasis loofah yang mampu bertahan hingga suhu ekstrem (1.000°C), J-20 dapat mempertahankan profil silumannya secara konsisten sepanjang durasi misi, bahkan saat terbang dengan kecepatan tinggi di ketinggian. Hal ini secara signifikan meningkatkan efektivitas tempur J-20, memungkinkannya beroperasi lebih lama tanpa terdeteksi. Penemuan ini memaksa Angkatan Udara AS (USAF) dan Angkatan Laut AS (US Navy), yang mengoperasikan jet seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II—untuk mempertimbangkan kembali bagaimana mereka akan menghadapi J-20 di masa depan. Reduksi sinyal radar hingga 700 kali lipat secara dramatis memperpendek jarak deteksi musuh.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER