Arab Saudi, sebagai salah satu kekuatan militer paling dominan di Timur Tengah dengan anggaran pertahanan tertinggi di dunia, memiliki kelemahan dalam struktur pertahanannya, yaitu ketiadaan armada kapal selam. Meskipun memiliki garis pantai yang panjang, Arab Saudi belum memiliki kapal selam dalam arsenal pertahanannya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor teknis dan doktrin, termasuk perairan Teluk yang dangkal dan ketergantungan pada sekutu Barat. Namun, dengan meningkatnya ketegangan regional dan visi 2030 untuk membangun industri pertahanan, kebutuhan akan kemampuan “sea denial” semakin mendesak.
Untuk menutup celah ini, Arab Saudi sedang melakukan pembicaraan dengan galangan kapal Italia, Fincantieri, untuk akuisisi kapal selam Todaro class, juga dikenal sebagai Type 212A. Keputusan ini didasari oleh kebutuhan akan kapal selam yang dapat beroperasi secara senyap di perairan dangkal maupun dalam, serta memiliki daya tahan tinggi. Selain Todaro class, Arab Saudi juga telah melirik kapal selam dari Jerman, Perancis, Korea Selatan, dan Cina.
Type 212A menawarkan keunggulan spesifik yang relevan bagi kebutuhan Arab Saudi. Kapal selam ini dilengkapi dengan teknologi Air-Independent Propulsion (AIP) berbasis sel bahan bakar hidrogen Siemens yang memungkinkan kapal selam tetap bawah air tanpa snorkel. Dibandingkan dengan kapal selam konvensional, Todaro class hampir mustahil dideteksi oleh sensor magnetik dan ranjau laut. Dengan panjang sekitar 56 meter dan berat 1.800 ton, Todaro class dapat dengan lincah bermanuver di perairan pesisir namun tetap tangguh di laut lepas.
Bagi Arab Saudi, memiliki kapal selam Type 212A akan menjadi sebuah transformasi besar dalam kekuatan maritim mereka. Diperkirakan Arab Saudi akan mengincar antara 2 hingga 4 unit kapal selam untuk membangun satuan kapal selam pertama mereka. Langkah ini akan menempatkan Angkatan Laut Kerajaan Arab Saudi pada level yang setara dengan kekuatan global lainnya di kawasan Timur Tengah.


