Sunday, May 10, 2026
HomeMiliterTeknologi Rudal Balistik KN-23 dan KN-24 Korea Utara Berusia 50 Tahun

Teknologi Rudal Balistik KN-23 dan KN-24 Korea Utara Berusia 50 Tahun

Perang di Ukraina telah mengungkap rahasia di balik alutsista tertutup milik Korea Utara yang mengejutkan. Berdasarkan studi laboratorium terbaru yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Ukraina terhadap puing-puing rudal balistik berbahan bakar padat KN-23 dan KN-24, ditemukan bahwa meskipun kemampuan rudal tersebut tidak diragukan lagi, teknologi produksinya masih tertinggal hingga 50 tahun. Para ilmuwan militer Kyiv menemukan bahwa kualitas penyolderan pada sirkuit rudal tersebut menggunakan metode usang yang sudah ditinggalkan dalam industri militer modern. Penggunaan metode ini, meskipun dianggap kuno, tampaknya menjadi solusi Korea Utara untuk tetap memproduksi senjata di tengah sanksi internasional.

Laporan tersebut mengungkap perbedaan signifikan antara rudal Korea Utara dengan mitranya dari Rusia, Iskander-M. KN-23 (Hwasong-11A) dan KN-24 (Hwasong-11B) sering dianggap sebagai kembaran Iskander, namun analisis Ukraina menunjukkan bahwa Pyongyang sebenarnya melakukan modifikasi mandiri dari cetak biru awal Iskander. Salah satu temuan penting adalah efisiensi bahan bakar yang rendah, memaksa Korea Utara untuk merancang mesin yang 50 persen lebih besar guna mencapai jarak yang sama dengan rudal Rusia. Selain itu, penggunaan material grafit pada bagian ujung rudal untuk mengatasi panas ekstrem saat terbang juga menjadi sorotan.

Aspek lain yang menarik adalah ketergantungan Korea Utara pada komponen sipil global, seperti cip dan komponen elektronik komersial dari berbagai merek terkemuka. Meskipun ini dianggap sebagai taktik cerdik untuk mengakali sanksi global, penggunaan komponen non-militer tersebut menyebabkan tingkat keandalan yang rendah. Hal ini terbukti dengan sebagian rudal KN-23 yang meledak di udara sebelum mencapai target karena masalah akurasi dan kegagalan sistem.

Penting untuk dicatat bahwa Korea Utara telah mengirim sedikitnya 148 rudal balistik ke Rusia hingga awal 2025. Ini memberikan pelajaran bagi pengamat alutsista global bahwa di balik teknologi yang dianggap kuno, kuantitas masif dan keterlibatan langsung dalam medan tempur memberikan data operasional berharga bagi Korea Utara untuk mengembangkan rudal generasi selanjutnya. Dengan demikian, fenomena ini membuktikan bahwa meskipun dianggap tertinggal secara teknologi, Korea Utara tetap berupaya meningkatkan kemampuan alutsista mereka.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER