Dunia intelijen dan agensi keamanan internasional saat ini dalam keadaan siaga satu karena telah muncul sebuah prototipe senjata yang mengancam tatanan kontrol senjata global. Seorang insinyur independen baru-baru ini membagikan cetak biru dan instruksi open-source untuk membuat rudal panggul berpemandu yang sebagian besar komponennya diproduksi menggunakan printer 3D. Rudal ini diklaim dapat dirakit dengan biaya kurang dari US$100 atau sekitar Rp1,5 juta saja, dan masuk ke dalam kategori MANPADS. Berbeda dengan rudal militer standar yang mahal, rudal “rakyat” ini menggunakan teknologi COTS atau komponen elektronik massal yang tersedia di pasaran umum. Penggunaan teknologi COTS ini memunculkan kekhawatiran di kalangan otoritas keamanan karena rudal ini dapat diproduksi secara mandiri oleh siapa pun dengan akses ke printer 3D dan koneksi internet.
Keberhasilan menciptakan rudal ini menunjukkan tren “demokratisasi senjata”, di mana teknologi yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh negara dengan anggaran militer besar kini dapat diproduksi secara independen oleh individu di rumah mereka sendiri. Ancaman dari rudal cetak 3D ini terletak pada kemampuannya untuk menghindari deteksi oleh sistem pertahanan konvensional karena jejak radar yang sangat rendah. Instruksi perakitan rudal yang bersifat open-source juga berarti dapat menyebar dengan cepat di seluruh dunia, di luar kendali protokol keamanan fisik yang ada saat ini.
Dengan munculnya “rudal low-budget” ini, dunia harus mengevaluasi kembali strategi perlindungan infrastruktur kritis mereka. Ancaman masa depan tidak lagi hanya datang dari pabrik senjata besar, tetapi juga dari pemanfaatan kreatif komponen elektronik sehari-hari yang bisa disalahgunakan menjadi senjata teror efektif dan sulit dilacak.
Source link


