Rheinmetall Air Defence, perusahaan pertahanan asal Jerman, baru saja menyelesaikan serangkaian uji coba penembakan langsung yang penting untuk sistem pertahanan udara jarak pendek terbaru mereka. Uji coba tersebut dilakukan di Lohja Test Range, Finlandia, dan berhasil menunjukkan integrasi yang mulus antara sensor elektro-optik pasif Skyspotter dengan sistem kanon otomatis Skyshield MK3. Fokus utama dari pengujian ini adalah penggunaan Skyspotter sebagai sensor deteksi baru yang bekerja dengan teknologi Infrared Search And Track (IRST) 360 derajat. Perangkat ini mampu memantau ruang udara secara otomatis tanpa memancarkan sinyal, yang disebut silent detection.
Penggunaan Skyspotter dalam melacak ancaman, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem dan dihadapi dengan rudal anti-radiasi, menjadi keunggulan strategis. Dengan dukungan algoritma kecerdasan buatan, sistem ini dapat mengidentifikasi berbagai jenis drone, termasuk yang memiliki profil radar rendah. Dalam uji coba di Finlandia, Rheinmetall berhasil menunjukkan proses serah terima data target dalam waktu sangat singkat, di mana Skyspotter bertindak sebagai sensor peringatan dini yang mengakuisisi target dan mengirimkan koordinat target secara instan ke unit penembak Skyshield MK3.
Meskipun turret Skyshield MK3 sudah dilengkapi dengan teknologi pelacak optik, sinergi dengan Skyspotter memungkinkan turret itu untuk mengikuti target dengan presisi tinggi sebelum target tersebut mencapai jarak tembak efektif. Setelah terkunci, kanon 35mm akan melepaskan amunisi AHEAD yang diprogram untuk meledak di depan jalur terbang drone, menghancurkannya dengan efisien.
Selain efektif dalam penghancuran target, pasangan Skyspotter dan Skyshield MK3 juga menawarkan solusi yang hemat biaya. Dalam era pertempuran modern, menggunakan rudal untuk mengatasi drone murah dianggap pemborosan. Sistem ini, dengan biaya hanya beberapa ribu dolar untuk menonaktifkan satu drone, menjadi solusi yang jauh lebih ekonomis. Integrasi sistem ini dirancang secara modular, sehingga dapat dipasang pada berbagai platform dan konfigurasi untuk berbagai keperluan, seperti pada platform mobile, semi-mobile, dan point defence statis.
Keberhasilan uji coba ini telah menarik minat negara-negara NATO, serta negara lain di Eropa Utara dan Asia Tenggara. Jerman menjadi pembeli pertama yang memproyeksikan penggunaan sistem ini untuk perlindungan infrastruktur energi kritis. Selain itu, beberapa negara lain juga sedang mengevaluasi sistem ini sebagai solusi atas ancaman drone yang sulit dideteksi oleh radar konvensional. Seperti Turki yang meluncurkan sistem pertahanan udara Aselsan Göker 35mm untuk bersaing dengan Rheinmetall Skyshield.


