Jet tempur generasi 4++ unggulan Rusia, Su-35 Flanker-E, mengalami perkembangan baru dengan pengembangan radar Active Electronically Scanned Array (AESA) baru untuk menggantikan radar PESA N035 Irbis-E yang sudah digunakan sejak tahun 2014. Langkah ini bukan hanya sekadar pembaruan biasa, tetapi juga sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan teknologi radar Rusia dari pesaing globalnya. Rusia sebelumnya tertinggal dalam pengadopsian teknologi radar AESA setelah runtuhnya Soviet, sementara negara lain seperti Amerika Serikat dan Jepang telah mengoperasikan radar AESA pada jet tempur mereka sejak awal tahun 2000-an.
Adopsi radar AESA pada jet tempur Su-35 bertujuan untuk menutup kesenjangan teknologi dengan jet tempur berat lainnya seperti F-15EX dari Amerika Serikat dan jet tempur buatan Cina. Upgrade ini juga bertujuan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan rudal udara-ke-udara jarak jauh R-37M yang memiliki jangkauan hingga 350 kilometer. Radar AESA diharapkan dapat memberikan presisi yang lebih tinggi dalam mengunci target dengan emisi gelombang radio secara simultan pada frekuensi yang berbeda.
Selain untuk meningkatkan kemampuan tempur, penggunaan radar AESA di Su-35 juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing jet tempur ini di pasar ekspor. Dengan potensi ekspor hingga 96 pesawat, integrasi radar AESA di Su-35 diharapkan dapat menjadi faktor penentu bagi negara-negara yang mencari alternatif jet tempur berat dari Rusia. Meskipun radar Irbis-E diakui memiliki kemampuan deteksi target hingga 400 km, evaluasi menunjukkan bahwa radar AESA milik jet tempur Cina masih memiliki keunggulan sekitar 20%. Transisi ke radar AESA diharapkan dapat memastikan Su-35 tetap relevan sebagai jet tempur canggih yang mampu bertarung dalam kondisi peperangan elektronika tingkat tinggi.


