Friday, October 9, 2026
HomeGaya HidupPodcast vs Radio: Mana yang Lebih Relevan dan Diminati?

Podcast vs Radio: Mana yang Lebih Relevan dan Diminati?

Podcast dan radio kini tidak lagi berdiri sebagai dua pilihan media yang saling meniadakan. Keduanya justru hadir melalui perangkat dan platform yang sama, dari ponsel hingga layanan streaming, dengan keunggulan yang berbeda bagi pendengar.

Survei Snapcart pada 2026 terhadap 1.638 responden menunjukkan podcast telah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi media masyarakat Indonesia. Namun, sebagian besar belum mendengarkannya setiap hari. Sebanyak 43 persen responden mengakses podcast kurang dari sekali dalam seminggu, 22 persen satu hingga dua kali per minggu, 18 persen tiga hingga empat kali per minggu, dan 17 persen setiap hari.

Podcast menawarkan pilihan yang lebih spesifik

Fleksibilitas menjadi salah satu daya tarik utama podcast. Pendengar tidak perlu menunggu jadwal siaran tertentu karena dapat memilih episode, topik, dan waktu pemutaran sesuai kebutuhan. Dalam survei yang sama, topik pembahasan menjadi pertimbangan utama bagi 47 persen responden, sedangkan 33 persen memilih berdasarkan pembawa acara atau narasumber.

Formatnya pun semakin beragam. Podcast tidak selalu berupa rekaman audio. Banyak program diproduksi sebagai video dan ditayangkan melalui YouTube, YouTube Music, Spotify, atau platform lain. YouTube dan YouTube Music menjadi layanan yang paling banyak digunakan responden untuk mengakses podcast, yakni 76 persen, sementara Spotify mencapai 16 persen.

Karena itu, istilah “mendengarkan podcast” kini bisa berarti menyimak audio sambil beraktivitas atau menonton percakapan di dalam studio. Temanya mencakup komedi, horor, kesehatan mental, bisnis, olahraga, teknologi, berita, hingga pengembangan diri.

Di Indonesia, contoh programnya antara lain Close The Door milik Deddy Corbuzier yang membahas isu, berita, dan kisah para narasumber; Podcast Raditya Dika yang mengangkat kehidupan sehari-hari, pekerjaan, hubungan, serta pengalaman pribadi; dan PODKESMAS bersama Surya, Omesh, Darto, dan Angga Nggok yang menggabungkan obrolan ringan dengan komedi.

Fenomena serupa terlihat secara global melalui The Joe Rogan Experience, Call Her Daddy, The Daily dari The New York Times, serta The Diary of a CEO with Steven Bartlett. Program-program tersebut menunjukkan podcast dapat berfungsi sebagai ruang hiburan, berita, pembelajaran, maupun diskusi serius.

Radio beradaptasi, bukan menghilang

Perubahan kebiasaan konsumsi media tidak otomatis membuat radio ditinggalkan. Stasiun radio kini memperluas akses melalui situs, aplikasi, YouTube, dan platform digital. Prambors, misalnya, kembali menyiarkan segmen The Dandees yang dibawakan Dimas Danang Suryonegoro dan Imam Darto.

Komisi Penyiaran Indonesia pada 2025 menyebut pendengar radio masih bertahan, meski cara mengaksesnya semakin beragam. RRI juga mengembangkan ekosistem digital dan pada 2026 mulai memperluas produksi podcast ke Spotify melalui Voice of Indonesia.

Radio memiliki keunggulan yang berbeda dari podcast: sifatnya langsung, spontan, dan menghadirkan pengalaman bersama. Pendengar dapat menerima informasi lalu lintas, berita, musik, komentar, atau percakapan yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia dalam Radio Summit XVIII 2025 juga menilai kedekatan dengan pendengar tetap menjadi kekuatan radio.

Pendengar mengonsumsi lebih dari satu kanal

Data Populix yang dirangkum GoodStats pada September 2026 menunjukkan 72 persen responden mengonsumsi video podcast dalam 30 hari terakhir, sedangkan podcast audio mencapai 45 persen. Radio FM/AM melalui perangkat radio berada di angka 30 persen, sementara radio melalui situs web atau aplikasi mencapai 25 persen. Sebanyak 82 persen audiens mengonsumsi lebih dari satu kanal media dalam periode tersebut.

Angka itu memperlihatkan bahwa masyarakat tidak harus memilih antara podcast dan radio. Podcast memberi keleluasaan menentukan konten dan waktu, sedangkan radio menawarkan spontanitas, kedekatan, serta informasi yang hadir secara langsung. Batas keduanya pun semakin kabur ketika radio membuat podcast, penyiar menjadi kreator digital, dan podcast diproduksi dalam format video maupun siaran langsung.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER