Dalam era globalisasi saat ini, pergerakan modal, arus informasi, dan barang lintas negara tidak hanya memperbesar peluang ekonomi, tetapi juga menghadirkan ancaman baru. Farrell dan Newman (2019) menyoroti bagaimana instrumen-instrumen itu dapat sekaligus menjadi sumber risiko dan juga cara untuk mengelolanya. Sejumlah konflik seperti perang di Ukraina dan Iran memperjelas betapa besar dampak risiko-risiko tersebut terhadap tatanan dunia modern. Perang, bahkan yang termasuk kategori terbatas, menghasilkan efek global pada rantai pasok pangan dan energi. Perang Ukraina telah mengguncang rantai distribusi pangan, sementara konflik di Iran memicu gangguan suplai energi dunia. Gangguan semacam itu bukan semata akibat turunnya produksi, tetapi karena terganggunya lalu lintas distribusi. Kejadian di Selat Hormuz misalnya, meski tidak terjadi blokade penuh, namun ancaman serangan sudah cukup membuat perusahaan pelayaran menunda operasi sehingga ekspor minyak anjlok menjadi hanya sekitar 2,7 juta barel per hari dalam beberapa bulan, dibandingkan rata-rata 20 juta barel biasanya. International Energy Agency (2026) menyatakan bahwa ini adalah salah satu gangguan suplai terbesar dalam sejarah perdagangan minyak global.
Perang Iran mengajarkan bahwa untuk memicu efek besar, sebuah negara tidak perlu menutup jalur distribusi secara total, melainkan hanya perlu membuat risiko menjadi terlalu tinggi untuk dilalui. Hal serupa juga terjadi pada Perang Ukraina. Sebelum perang, mayoritas ekspor hasil pertanian Ukraina, sejumlah lebih dari 90 persen, diangkut melalui pelabuhan Laut Hitam. Ketika jalur itu terganggu, eksportasi lewat jalur alternatif hanya sanggup menutup sebagian kecil kebutuhan. Bahkan, pasokan pupuk dunia juga terganggu karena Rusia dan Belarus merupakan pemain kunci global. Jika distribusi input pertanian terhenti, produksi negara-negara lain ikut terdampak. Rantai kerentanan ini mempertegas bahwa aspek yang menentukan ketahanan pangan bukan sekadar jumlah hasil panen, tapi juga akses terhadap input serta distribusinya.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa jaringan ekonomi dan logistik dunia tetaplah menyimpan titik-titik vital yang rentan. Ketika salah satu simpul utama terganggu, efeknya bisa meluas jauh melampaui lokasi konflik. Konsep “chokepoint effect” dari Farrell dan Newman menegaskan bahwa kontrol terhadap akses ke simpul strategis akan mempengaruhi stabilitas global. Simpul kritis tersebut bukan hanya berupa pelabuhan atau selat, melainkan juga jaringan finansial, teknologi, hingga distribusi data. Fishman (2025) bahkan menunjukkan bahwa simpul ekonomi ini kini secara aktif digunakan dalam strategi perang — baik dengan sanksi, penutupan akses, hingga sabotase teknologi. Perbedaannya dengan perang di era lalu, efeknya kini meresap lebih luas dan cepat, menargetkan bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga fondasi logistik serta sistem ketahanan nasional.
Contohnya, ketika pengiriman gandum dari Ukraina berhenti, negara-negara di Afrika dan Timur Tengah mengalami krisis pangan. Gangguan suplai energi dari Teluk juga memicu kenaikan harga minyak dunia maupun risiko keamanan energi bagi negara berkembang seperti Indonesia. Negara non-konflik pun nyata terkena dampaknya. Artinya, dalam perencanaan pertahanan negara seperti Indonesia, perlu dihitung bukan hanya ancaman langsung, tetapi juga ancaman yang muncul akibat terhentinya fungsi-fungsi vital akibat perang jauh di luar wilayahnya. Jika jalur impor pangan, pasokan energi, ataupun sistem komunikasi lumpuh akibat konflik eksternal, kapasitas bertahan Indonesia dapat ikut melemah.
Poin penting lainnya, kemandirian atau swasembada belum tentu berarti tahan gangguan, sebab produksi nasional tetap bisa bergantung pada bahan baku impor atau distribusi yang terkonsentrasi pada satu simpul. Sebaliknya, ketergantungan global dapat dikelola asalkan ada alternatif, cadangan, dan jaringan pengaman berlapis. Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada konektivitas antarpulau, baik lewat pelabuhan, terminal energi, gudang pangan, bahkan sistem pembayaran digital dan kabel bawah laut. Setiap titik kritis di jaringan itu berpotensi menjadi celah kerentanan jika tidak mendapat perhatian khusus dalam perencanaan pertahanan.
Oleh sebab itu, kesiapan Indonesia menghadapi risiko global harus bertransformasi dari sekadar penguatan sektoral ke penguatan fungsi-fungsi vital secara sistemik. Identifikasi harus dilakukan terhadap apa saja yang secara mutlak harus tetap tersedia, jalur mana yang tidak boleh terputus, dan seberapa cepat sistem bisa dipulihkan jika terjadi gangguan. Strategi ke depan perlu diarahkan pada perlindungan simpul kritis, perancangan jalur alternatif, dan penciptaan redundansi dalam logistik dan jaringan vital.
Dari peristiwa di Ukraina dan Iran, pelajaran penting untuk Indonesia adalah: saling-ketergantungan global tidak bisa dihindari, namun pengelolaan risiko pada simpul-simpul kritis harus menjadi prioritas. Persiapan pertahanan tidak cukup hanya fokus pada dari mana serangan fisik mungkin tiba, melainkan juga bagaimana antisipasi ketika fungsi utama negara, baik itu transportasi, distribusi energi, logistik pangan, maupun data digital, terhenti karena konflik yang bahkan jauh dari negeri ini. Indonesia harus mengetahui simpul mana yang paling vital, apa ancaman terhadapnya, dan berapa lama negara bisa bertahan jika simpul tersebut lumpuh. Di masa depan, pertahanan bangsa adalah pertahanan terhadap gangguan pada simpul-simpul interkoneksi yang selama ini menjadi nadi utama kehidupan negara.
Bayangkan seorang pelajar Indonesia berjuang mewujudkan cita-cita, namun terbatas oleh minimnya akses belajar. Dukungan Anda dapat membuka peluang baru. Bersama Kompas.com dan Ekspedisi Kata ke Nyata, mari bantu tingkatkan akses literasi di seluruh pelosok negeri, memberi anak-anak Indonesia jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas


