Pada bulan Maret 2026, jagat pemerhati militer global dihebohkan oleh berita mengejutkan dari Laut Merah. Kapal induk tercanggih dan termahal di dunia milik Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford (CVN-78), harus ditarik mundur dari penugasan aktif ke Pelabuhan Souda Bay di Kreta, Yunani. Meskipun alasan resmi adalah insiden kebakaran di ruang binatu, spekulasi liar tentang serangan rudal balistik Iran mulai mencuat.
Menurut Pentagon, kapal senilai US$13 miliar tersebut mengalami kebakaran hebat di area internal yang berasal dari ruang binatu. Api merembet ke jalur kabel utama yang mempengaruhi sistem kontrol dan ventilasi, mengganggu kemampuan operasional kapal. Meskipun estimasi perbaikan antara 12 hingga 24 bulan, muncul pertanyaan mengenai kompleksitas kerusakan yang tidak sepenuhnya terkait dengan kebakaran laundri biasa.
Berdasarkan laporan intelijen terbuka, aktivitas peluncuran rudal balistik Iran juga tercatat pada saat yang sama. Para pengamat menyebutkan kemungkinan serangan kapal induk oleh rudal anti-kapal Iran. Meskipun narasi resmi adalah kecelakaan internal, terdapat dugaan bahwa USS Gerald R. Ford mungkin menjadi target rudal Iran yang dapat membuat kapal tersebut kehilangan kemampuan tempur.
Absennya kapal induk USS Gerald R. Ford selama satu hingga dua tahun terbuka menciptakan celah keamanan yang signifikan di Timur Tengah. Sebagai salah satu aset pencegah terkuat AS, ini dianggap sebagai bencana politik dan ekonomi. Meskipun pernyataan resmi memperkirakan perbaikan selama seminggu, banyak pihak skeptis terhadap narasi ini dan mempertanyakan sejauh mana ini dapat berdampak pada supremasi laut Amerika Serikat.


