Insiden Overrun di Pangkalan Udara Makassar
Dunia penerbangan di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, kembali menjadi sorotan setelah terjadi serangkaian insiden pesawat meluncur keluar landas pacu (overrun). Peristiwa ini terjadi hanya berselang satu hari setelah insiden yang menimpa jet tempur Sukhoi Su-30MK2 milik TNI AU pada 24 Agustus 2026, yang kemudian diikuti oleh insiden serupa pada 25 Agustus 2026 yang menimpa pesawat angkut ringan turboprop NC-212 Aviocar milik Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) TNI AL.
Sejarah Berulangnya Insiden Overrun di Makassar
Catatan historis menunjukkan bahwa landas pacu Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin memiliki sejarah insiden overrun yang cukup intensif, baik dari segi armada militer maupun penerbangan sipil. Pada masa operasional jet tempur A-4E Skyhawk di era 1980-an hingga 1990-an, peristiwa overrun sering terjadi akibat karakteristik pengereman jet tempur tersebut. Tidak hanya itu, penerbangan sipil juga pernah mengalami insiden serupa, seperti ketika pesawat Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia mengalami overrun pada September 2015.
Penyebab Fenomena Overrun di Makassar
Faktor utama di balik insiden overrun di Makassar diperkirakan berasal dari dinamika mekanis pesawat, kondisi teknis permukaan landasan, serta kondisi meteorologi non-hujan. Pada kondisi cuaca kering saat ini, faktor cuaca basah dan hydroplaning tidak berlaku. Kondisi high density altitude dan faktor lainnya seperti angin belakang, degradasi koefisien gesek aspal, dan potensi kegagalan mekanis pengereman menjadi variabel utama yang perlu dievaluasi mendalam.
Peristiwa insiden overrun yang kembali terulang di Pangkalan Udara Makassar memang menimbulkan pertanyaan besar mengenai faktor teknis yang memicu kejadian tersebut, apalagi dalam kondisi musim kemarau panjang seperti sekarang. Evaluasi mendalam terhadap seluruh variabel teknis dan meteorologi menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.


