Korps Marinir Amerika Serikat (U.S. Marine Corps/USMC) telah meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Filipina melalui pengerahan aset udara nirawak canggih. Unit dari Marine Unmanned Aerial Vehicle Squadron (VMU)-1 beroperasi dari Pangkalan Udara Basa di provinsi Pampanga, Filipina, atas permintaan Manila untuk memperkuat kapabilitas Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) regional, terutama di perairan sengketa Laut Cina Selatan (LCS). Pesawat nirawak Medium-Altitude Long-Endurance (MALE) MQ-9A Reaper, yang dipersenjatai dengan sensor canggih, digunakan untuk mengumpulkan data, pengawasan maritim, dan peningkatan kesadaran domain, tanpa senjata. Pengerahan tersebut difasilitasi melalui Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) antara AS dan Filipina, memungkinkan akses AS ke fasilitas di Filipina termasuk Pangkalan Udara Basa, yang memberikan lokasi strategis dekat dengan LCS. Operasi ini bertujuan untuk mendukung upaya Maritime Domain Awareness (MDA) Filipina, memungkinkan Angkatan Bersenjata Filipina membuat keputusan operasional lebih tepat dalam menghadapi agresi Cina di wilayah perairan sengketa.
Kehadiran Reaper menunjukkan evolusi kerjasama pertahanan AS-Filipina menuju interoperabilitas operasional yang lebih kuat. Meskipun Cina menentang pengerahan tersebut, aliansi ini memperkuat kemampuan Filipina dalam mendukung keamanan maritim dan klaim kedaulatannya. Operasi ini juga merupakan bagian dari inisiatif AS dalam Force Design 2030 untuk menggeser operasi berbasis darat menjadi Expedionary Advanced Base Operations (EABO), yang memungkinkan pengoperasian dari pangkalan yang lebih kecil di kawasan kepulauan seperti Filipina. Pengerahan Reaper menunjukkan komitmen jangka panjang AS-Filipina dalam memperkuat pertahanan nasional Filipina dan mempertahankan keseimbangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.


