Tank ringan FV101 Scorpion mungkin sudah dianggap sebagai alutsista veteran di banyak negara, namun di tangan industri pertahanan Ukraina, tank ini bertransformasi menjadi “pembunuh tank” yang mematikan. Melalui proyek yang dirintis oleh Zhitomir Armored Plant, bagian dari grup UkrOboronProm, Ukraina meluncurkan paket modernisasi yang dikenal dengan nama Scorpion Kastet. Proyek Kastet sendiri mulai dirintis pada awal dekade 2010-an, tepatnya sekitar tahun 2013-2014, sebagai upaya Ukraina untuk merambah pasar ekspor modernisasi kendaraan lapis baja global. Setelah melalui serangkaian uji coba, Ukraina mulai secara agresif menawarkan paket ini kepada negara-negara pengguna Scorpion (termasuk di kawasan Asia Tenggara) pada ajang pameran pertahanan internasional mulai tahun 2016. Meskipun modul tempur Kastet dikembangkan oleh Ukraina, Yordania adalah peluncur perdana (launch customer) sekaligus mitra pengembangan utama. Proyek ini muncul karena Angkatan Bersenjata Yordania memiliki ratusan unit FV101 Scorpion yang sudah tua dan ingin dimodernisasi secara radikal. Proyek ini adalah buah kolaborasi strategis antara industri pertahanan Ukraina (UkrOboronProm) dan biro desain KADDB (King Abdullah II Design and Development Bureau) dari Yordania. Modul Kastet pertama kali dipamerkan secara luas pada ajang SOFEX 2016 di Amman, Yordania. Saat itu, dunia terkejut melihat tank Scorpion kecil milik Yordania yang biasanya hanya membawa meriam 76mm, tiba-tiba tampil garang dengan kubah modern yang dilengkapi modul tempur baru. Inti dari upgrade ini adalah penggantian total kubah asli dengan Kastet Combat Module. Berbeda dengan kubah konvensional, Kastet adalah sistem senjata terpadu yang sangat padat. Alih-alih mengandalkan satu meriam besar, Kastet mengandalkan kombinasi senjata. Keunggulan Scorpion Kastet terletak pada kombinasi mematikan antara kanon otomatis untuk target lunak dan rudal presisi untuk target lapis baja berat.
Kanon Otomatis ZTM-1 30mm adalah versi Ukraina dari kanon legendaris Soviet 2A72. Senjata ini dirancang untuk menghancurkan target darat yang terlindungi baja ringan, sarang senapan mesin, serta target udara yang terbang rendah. Kanon ini menggunakan sistem long recoil yang unik untuk mengurangi gaya tolak (recoil) pada kendaraan pembawanya, sehingga sangat cocok dipasang pada tank ringan seperti Scorpion tanpa menggoyang stabilitas kendaraan. ZTM-1 mampu memuntahkan hingga 330 butir peluru per menit, dan memiliki sistem pengisian ganda (dual feed), sehingga penembak bisa beralih dengan cepat antara peluru AP (Armor Piercing) untuk menembus baja atau HE-I (High Explosive Incendiary) untuk target infanteri. Jarak tembak efektif ZTM-1 hingga 2.000 meter untuk target darat dan 1.500 meter untuk target udara. Rudal Anti-Tank (ATGM) “Barrier” merupakan produk unggulan dari biro desain Luch di Kyiv. Rudal ini memberikan Scorpion Kastet kemampuan untuk menghancurkan Main Battle Tank (MBT) kelas berat dari jarak aman. Barrier menggunakan Laser Beam Riding, penembak hanya perlu menjaga tanda bidik tetap pada target, dan rudal akan mengikuti pancaran laser tersebut hingga menghantam sasaran. Sistem ini sangat tahan terhadap gangguan elektronik (jamming). Hulu ledaknya menggunakan teknologi Tandem Hollow Charge, yang dirancang khusus untuk menembus lapisan baja reaktif (ERA) yang biasanya terpasang pada tank-tank modern Rusia seperti seri T-72, T-80, atau T-90. Kemampuan penetrasinya mampu menembus baja setebal 800 mm RHA (Rolled Homogeneous Armour) setelah melewati lapisan baja reaktif (ERA). Jarak jangkau rudal ini mencapai 5.000 meter (5 km), dengan waktu terbang ke jarak maksimum sekitar 23 detik.
Perbandingan antara Scorpion Kastet dan Scorpion 90 TNI AD menunjukkan perbedaan signifikan dalam daya gempur dan fleksibilitas operasional. Scorpion Kastet, meskipun memiliki kaliber yang lebih kecil, tetapi keberadaan rudal Barrier memberikan keuntungan pada jangkauan tembak yang lebih jauh dan tingkat akurasi yang tinggi. Selain itu, Scorpion Kastet juga lebih multifungsi dan dilengkapi dengan sistem kendali tembak yang lebih modern. Untuk urusan deteksi sasaran, Scorpion Kastet dibekali dengan Thermal Imager Mithras yang memungkinkan penglihatan yang jernih dalam kondisi gelap dan kabur. Mesin bensin yang boros pada Scorpion 90 diganti dengan mesin Perkins Phaser 200 Turbodiesel yang lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar. Mesin baru ini meningkatkan performa tank tanpa mengabaikan efisiensi bahan bakar.
Meskipun proyek Scorpion Kastet tidak pernah masuk ke lini produksi massal karena perubahan doktrin militer Yordania dan prioritas Ukraina yang berubah, konsep modernisasi seperti ini dapat memberikan wawasan bagi negara seperti Indonesia dalam menghadapi ancaman perang asimetris dan drone. Konsep “Kastet” mendorong untuk mengadopsi teknologi terbaru guna mengoptimalkan kemampuan tempur alutsista yang sudah ada.


