Thailand Menjajaki Kerja Sama Drone Kamikaze LUCAS dengan AS
Thailand Melirik Teknologi Drone One-Way Attack AS
Kementerian Pertahanan Thailand sedang mengembangkan rencana modernisasi alutsista dan penguatan industri pertahanan dalam negeri dengan melirik teknologi drone one-way attack buatan Amerika Serikat. Dalam kunjungan resmi delegasi militer Thailand ke Quantico, AS, pada 2 hingga 9 Agustus 2026, Thailand secara khusus meninjau program drone LUCAS (Low-Cost Unmanned Combat Attack System) guna mengeksplorasi potensi produksi lokal dan kerja sama manufaktur UAV.
Langkah Modernisasi Alutsista Thailand
Thailand telah memulai riset dan pengembangan drone kamikaze mandiri berbasis desain delta-wing yang terinspirasi oleh Shahed-136 melalui Defense Technology Institute (DTI). Namun, keterbatasan pada aspek sistem navigasi, ketahanan terhadap perang elektronik (anti-jamming), serta integrasi jaringan tempur menjadi alasan utama mengapa Thailand melihat kerja sama teknologi dengan Amerika Serikat sebagai langkah penting.
LUCAS sendiri adalah drone serang sekali pakai berbiaya murah yang dirancang AS untuk menjalankan misi serangan presisi jarak jauh. Drone ini telah teruji secara operasional dalam aksi tempur AS di Iran pada awal 2026.
Kepentingan dan Strategi Thailand
Drone kamikaze akan mengisi celah kemampuan tempur Thailand antara artileri darat dan rudal jelajah jarak jauh dengan biaya operasional rendah di wilayah perbatasan darat dan perairan luas. Dengan drone ini, Thailand dapat melakukan identifikasi sasaran hingga penindakan secara cepat dan presisi.
Tingkat Alih Teknologi yang Diperlukan
Tingkat alih teknologi yang disepakati antara Thailand dan AS akan menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Thailand tidak hanya menargetkan perakitan akhir, tetapi juga akses pada teknologi avionik, perangkat navigasi anti-jamming, datalink, dan perangkat lunak perencanaan misi. Hal ini penting untuk memastikan drone dapat bertahan dari gangguan perang elektronik.
Secara geopolitik, langkah Thailand ini sejalan dengan strategi Pentagon untuk menyebar kapasitas produksi drone murah di wilayah Indo-Pasifik, yang akan memperkuat rantai pasok dan daya gentar kawasan.


