Dua hovercraft Landing Craft Air Cushion (LCAC) milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang atau Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) mendarat di Pesisir Karimunting, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, pada 11 September 2026. Pendaratan dari kapal JS Kunisaki (LST-4003) itu menjadi bagian dari dukungan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus menjadi operasi perdana LCAC JMSDF di Pulau Kalimantan.
LCAC bernomor lambung 2105 dan 2106 tersebut keluar dari dok basah atau well deck JS Kunisaki, kemudian bergerak di atas permukaan air hingga mencapai pantai. Keduanya membawa kendaraan pendukung operasi darat dan logistik, termasuk truk berat Isuzu Type 73 Ogata yang dilengkapi derek untuk menunjang evakuasi serta kendaraan taktis ringan Mitsubishi Type-73 Kogata 4×4.
Selain mengoperasikan dua hovercraft, kapal pendarat amfibi itu juga membawa dukungan udara berupa tiga helikopter angkut berat Kawasaki CH-47 Chinook. Seluruh aset tersebut dikerahkan untuk mendukung misi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana atau Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) di Kalimantan Barat.
Jejak operasi kemanusiaan di Aceh
Pendaratan di Karimunting mengulang jejak operasi JS Kunisaki bersama LCAC 2105 dan 2106 di Indonesia 21 tahun sebelumnya. Pada 27 Januari 2005, kapal dan dua hovercraft yang sama diterjunkan ke pesisir dekat Banda Aceh setelah tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir 2004.
Ketika itu, kedua LCAC melintasi kawasan pantai yang rusak untuk mengirim bantuan logistik mendesak. Muatan yang dibawa mencakup fasilitas penyulingan air bersih dan truk medis. Penugasan di Aceh tercatat sebagai operasi bantuan militer Jepang terbesar di luar negeri sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Kemampuan mencapai daratan tanpa bergantung pada dermaga membuat LCAC dapat digunakan di wilayah pesisir yang infrastrukturnya rusak atau sulit dijangkau. Karakteristik itu pula yang kembali dimanfaatkan dalam misi tanggap darurat di Kalimantan Barat.
Hovercraft berdaya angkut hingga 75 ton
LCAC yang dioperasikan dari JS Kunisaki merupakan wahana amfibi buatan Amerika Serikat. Platform ini dikembangkan Textron Marine & Land Systems bersama Avondale Gulfport Marine. Kementerian Pertahanan Jepang memesannya pada pertengahan 1990-an untuk ditempatkan di dok basah kapal pendarat amfibi kelas Osumi.
Untuk pemeliharaan dan pengoperasian di Jepang, Textron menjalin bantuan teknis dengan konsorsium galangan lokal, antara lain Mitsui Engineering & Shipbuilding dan Yamada International. Namun, lisensi resmi, desain dasar, serta arsitektur mesin enam LCAC milik JMSDF—bernomor lambung 2101 sampai 2106—tetap berbasis teknologi militer Amerika Serikat.
Wahana ini memiliki panjang 26,8 meter dan lebar 14,3 meter. Bobot kosongnya sekitar 105 ton, sedangkan bobot penuh dapat mencapai 182 ton. Empat mesin turbin gas Vericor Power Systems ETF40B atau Avco Lycoming TF40B menghasilkan daya total hingga 16.000 shaft horsepower.
Dengan tenaga tersebut, LCAC mampu melaju lebih dari 40 knot saat membawa muatan penuh dan hingga 70 knot dalam kondisi kosong. Jangkauan operasionalnya mencapai 200 mil laut. Geladak kargo seluas 168 meter persegi dapat menampung muatan 60–75 ton, setara satu tank tempur utama Type 90, beberapa truk logistik, atau hingga 180 personel.
Bantalan udara dengan skirt setinggi 1,2 meter memungkinkan LCAC bergerak di perairan dangkal, rawa, muara sungai, dan pantai berkarang. Setiap unit dioperasikan lima awak, yakni Craft Master, navigator, engineer, Deck Engineer, dan Loadmaster.


