Iran telah merasakan ancaman serius dari serangan drone kamikaze yang dilakukan oleh agen intelijen Israel di dalam negeri. Untuk mengatasi hal ini, Iran telah mengembangkan solusi non-konvensional yaitu sistem pertahanan udara “Jaljaleh”. Sistem ini dirancang untuk menetralisir drone kecil, murah yang sulit dideteksi oleh radar konvensional, terutama drone FPV yang digunakan untuk serangan kamikaze.
“Sistem Jaljaleh dapat diluncurkan dari darat atau atap gedung dan beroperasi secara efektif di ketinggian rendah. Sistem ini menggunakan sensor inframerah atau radar mini untuk mendeteksi drone yang mendekat dan meledak ketika target berada dalam jarak tertentu, merusak drone dengan pecahan peluru,” ungkap seorang pakar.
Ranjau udara ini memiliki jangkauan hingga 350 meter dari permukaan tanah dan dilengkapi dengan muatan peledak yang dirancang untuk memberikan efek fragmentasi maksimal. Dengan ledakan efektif sekitar 5 meter dan shrapnel yang mencapai 15 meter, sistem ini dapat menghancurkan drone yang berada di sekitar infrastruktur, bahkan jika tidak langsung terkena ledakan.
Penggunaan sistem ranjau udara seperti Jaljaleh menunjukkan bahwa Iran sedang menggeser fokus pertahanannya ke arah perang asimetris. Sistem ini dianggap sebagai solusi yang efektif dan hemat biaya untuk menghadapi serangan drone dalam pola kawanan di mana sistem pertahanan udara konvensional menjadi terlalu mahal dan tidak efektif. Ranjau udara ini dapat ditempatkan di sekitar pangkalan militer, fasilitas nuklir, atau kilang minyak sebagai lapisan pertahanan terakhir terhadap serangan drone kamikaze yang terbang rendah dan sulit dideteksi.


