Operasi ekstraksi awak jet tempur F-15E yang dramatis di Iran beberapa waktu lalu menyoroti bahayanya terbang rendah di wilayah dengan unit pertahanan udara portabel yang kuat. Meskipun pesawat tempur AS dilengkapi dengan sistem penangkal canggih, serangan taktik saturasi MANPADS terbukti dapat menembus perlindungan tersebut. Salah satu rudal yang menonjol dalam serangan ini adalah Misagh-2, rudal panggul Iran yang menjadi tulang punggung pertahanan udara di sekitar Teheran.
Misagh-2, yang diresmikan pada tahun 2006, merupakan rudal MANPADS yang didesain untuk mobilitas ekstrem dalam berbagai kondisi cuaca. Dengan kecepatan mencapai Mach 2.8, rudal ini diklaim mampu menghancurkan target hanya dalam waktu 5 detik setelah diluncurkan. Keberadaan Misagh-2 yang masif menunjukkan bahwa ancaman bagi pesawat tempur tidak selalu datang dari jet siluman, tetapi juga dari rudal panggul yang ditembakkan oleh prajurit infanteri terlatih.
Dapur pacu Misagh-2 didukung oleh solid rocket motor yang memungkinkan rudal mencapai kecepatan maksimal 850 m/s. Sistem pemandu Infrared Fire and Forget membuatnya mampu mengejar target tanpa perlu intervensi tambahan dari operator. Perkembangan keluarga Misagh terus berlanjut, dengan varian Misagh-3 memiliki teknologi sensor laser untuk menjamin akurasi hantaman pada target yang bergerak.
Dalam situasi pertempuran di Iran, doktrin saturasi diterapkan di mana banyak rudal ditembakkan pada satu target secara bersamaan untuk meningkatkan probabilitas hantaman. Bahkan pesawat dengan sistem elektronik terbaru pun rentan terhadap serangan rudal berkecepatan tinggi dari arah yang berbeda. Keseluruhan, kehadiran Misagh-2 adalah contoh nyata bagaimana ancaman MANPADS dapat menjadi momok yang serius bagi aset udara militer.


