Finlandia mulai mengoperasikan jet tempur siluman generasi kelima setelah Angkatan Udaranya secara resmi memperkenalkan F-35A Lightning II kepada publik di Lapland Air Wing, Rovaniemi, pada 1 Oktober 2026. Pada hari yang sama, pilot Finlandia menerbangkan F-35A untuk pertama kalinya di wilayah udara nasional negara tersebut.
Dua pesawat yang ditampilkan, yakni JF-510 dan JF-512, menjadi bagian awal dari program pengadaan 64 unit F-35A. Kontrak itu merupakan hasil dari proyek HX, program Finlandia untuk menggantikan armada F/A-18 C/D Hornet secara bertahap. Seluruh pesawat ditargetkan telah diterima pada akhir 2030.
Penempatan dimulai dari Rovaniemi
Lapland Air Wing di Rovaniemi menjadi pangkalan pertama yang menerima F-35A Finlandia. Penempatan berikutnya akan dilakukan di Karelia Air Wing, Rissala, Kuopio, yang dijadwalkan mulai menerima bagian dari armada tersebut pada 2028.
Masuknya F-35A berlangsung ketika Finlandia memperkuat kemampuan udaranya di kawasan utara yang berbatasan langsung dengan Rusia. Kehadiran armada ini dipandang sebagai elemen baru dalam penangkalan strategis NATO di kawasan Arktik, terutama di sepanjang perbatasan NATO-Rusia yang membentang lebih dari 1.300 kilometer.
F-35A dirancang bukan hanya sebagai pesawat tempur, melainkan juga sebagai simpul sensor terbang. Pesawat ini dapat mengumpulkan dan membagikan data melalui data-link secara tersembunyi kepada radar pertahanan darat maupun pesawat sekutu. Kemampuan tersebut akan mendukung pemantauan aktivitas militer di wilayah Semenanjung Kola hingga Laut Barents.
Disiapkan untuk operasi dari jalan raya
Finlandia menggabungkan teknologi siluman F-35A dengan doktrin operasi terdispersi yang telah digunakan selama puluhan tahun. Angkatan Udara Finlandia terbiasa mengoperasikan jet tempur dari pangkalan jalan raya, landasan darurat di kawasan hutan, serta fasilitas perlindungan bawah tanah yang tersebar.
Untuk mendukung operasi dari landasan pendek, licin, dan tertutup salju, F-35A pesanan Finlandia dilengkapi sistem drag chute. Perangkat berbentuk parasut yang dipasang pada fairing di bagian belakang fuselage itu berfungsi membantu mengurangi kecepatan pesawat saat mendarat. Konfigurasi serupa juga digunakan oleh Norwegia.
Pesawat Finlandia diproduksi dengan standar teknologi TR-3 atau kemampuan Block 4. Konfigurasi tersebut mencakup peningkatan kapasitas komputasi, radar AESA, sensor elektro-optik terintegrasi, serta kemampuan membawa lebih banyak jenis amunisi presisi di ruang senjata internal.
Perpaduan antara teknologi stealth, kesadaran situasional berbasis jaringan NATO, dan kemampuan beroperasi di medan Arktik menempatkan F-35A sebagai komponen penting dalam rencana pertahanan udara Finlandia. Armada baru ini akan mengambil alih peran F/A-18 C/D Hornet secara bertahap hingga seluruh 64 unit yang dipesan Helsinki dikerahkan.


