Indonesia dan Filipina menghadapi tantangan serupa dalam menangani kelompok separatis bersenjata, sementara keduanya menggunakan pesawat serang ringan bermesin turboprop A-29 Super Tucano untuk misi Close Air Support (CAS). Meskipun keduanya memiliki pesawat yang sama, perlengkapan senjata yang digunakan ternyata berbeda. Angkatan Udara Filipina dilengkapi dengan arsenal persenjataan yang lebih canggih daripada yang dimiliki oleh Indonesia.
A-29 Super Tucano milik Angkatan Udara Filipina telah diintegrasikan dengan senjata udara-ke-permukaan baru, termasuk Advanced Precision Kill Weapon System II (APKWS) dari BAE Systems dan Lizard 3 laser guided munition (LGM) dari Elbit Systems. Angkatan Udara Filipina saat ini mengoperasikan enam unit Super Tucano dengan rencana penambahan enam unit lagi yang dioperasikan oleh 5th Strike Wing di Pangkalan Udara Danilo Atienza di Kota Cavite.
Armada Super Tucano Filipina telah menerima amunisi baru, termasuk Lizard 3, APKWS, dan Guided Advanced Tactical Rocket (GATR) dari Northrop Grumman Innovation dan Elbit Systems. Akuisisi senjata ini didasarkan pada kontrak Departemen Pertahanan AS pada September 2019 yang diberikan kepada BAE Systems untuk memproduksi APKWS II untuk negara-negara termasuk Filipina di bawah program Foreign Military Sales (FMS).
APKWS II adalah satu-satunya program yang memungkinkan roket tak berpemandu 2,75 inci (70 mm) untuk diubah menjadi amunisi berpemandu presisi, yang efektif untuk menyerang pesawat militer dengan biaya operasi rendah. Dengan menggunakan kit pemandu APKWS, roket 70 mm dapat menjadi senjata supersonik lock-on-after-launch yang akurat dan relatif terjangkau untuk menghancurkan drone atau target lain. Filipina tetap meningkatkan kekuatan militer mereka dengan integrasi senjata yang lebih canggih pada pesawat A-29 Super Tucano mereka.


