Pada tanggal 21 Oktober 2025, Angkatan Udara AS (USAF) mencatat sejarah penting di Nevada Test and Training Range (NTTR) yang menandai titik balik dalam doktrin perang udara modern. Demonstrasi melibatkan pesawat tempur siluman generasi kelima, F-22 Raptor, yang mengendalikan pesawat nirawak (UAS) canggih, MQ-20 Avenger. Peristiwa ini bukan sekadar uji terbang; ini adalah validasi kritis terhadap konsep Crewed-Uncrewed Teaming (CUT), yang akan mendefinisikan dominasi udara di medan tempur masa depan.
Inti dari demonstrasi ini adalah kemampuan pilot tunggal di kokpit F-22 untuk mengintegrasikan MQ-20 ke dalam skenario misi yang kompleks. Pengendalian dilakukan melalui interface yang dipasang di kokpit, Pilot Vehicle Interface (PVI) Tablet, yang memungkinkan pilot mengeluarkan perintah taktis tingkat tinggi. Perintah ini kemudian diteruskan melalui arsitektur radio terbuka yang canggih, didukung oleh Radio yang Ditentukan Perangkat Lunak (SDR) L3Harris dan Modul GRACE yang dipasang pada kedua platform.
Pemilihan platform F-22 Raptor sangat strategis karena memiliki sensor fusion dan kemampuan siluman yang memungkinkan platform ini bertindak sebagai pusat komando yang aman. Sementara MQ-20 Avenger, dikembangkan oleh General Atomics Aeronautical Systems (GA-ASI), menjadi surrogate yang ideal. Dengan mesin turbofan Pratt & Whitney PW545B, MQ-20 mampu terbang dengan kecepatan hingga 400 knot dan ketinggian lebih dari 50.000 kaki, memungkinkannya beroperasi di lingkungan ancaman yang lebih tinggi.
Keberhasilan uji coba F-22 dan MQ-20 ini mendukung program USAF Collaborative Combat Aircraft (CCA). CCA adalah inisiatif untuk menciptakan pesawat pendamping nirawak yang mampu bekerja secara otonom di bawah pengawasan manusia. Tujuannya adalah menyediakan kekuatan tempur tambahan dengan biaya lebih rendah daripada pesawat berawak, memastikan USAF tetap unggul melawan musuh yang memiliki sistem Anti-Access/Area-Denial (A2/AD) yang canggih.
CCA berbeda dari drone generasi sebelumnya karena tingkat otonomi dan integrasi kecerdasan buatan (AI). Sistem AI yang tertanam pada modul GRACE dan PVI memungkinkan pengambilan keputusan yang terdistribusi, mengurangi beban kognitif pilot. CCA akan membentuk formasi dengan pesawat berawak generasi kelima atau keenam, membentuk sebuah ekosistem perang udara yang adaptif dan resilient, siap untuk menghadapi ancaman dunia.
Meskipun MQ-20 Avenger adalah demonstran sukses CUT, pesawat ini juga berfungsi sebagai testbed untuk teknologi otonomi yang akan diintegrasikan dalam CCA generasi berikutnya. Spesifikasi teknis MQ-20 memberikan cetak biru penting bagi kebutuhan produksi massal CCA. Program CCA sendiri adalah bagian dari inisiatif lebih luas, Next-Generation Air Dominance (NGAD), yang mencakup pesawat tempur berawak generasi keenam, jaringan sensor terintegrasi, dan CCA sebagai komponen tak terpisahkan.
Demonstrasi F-22 dan MQ-20 di NTTR menegaskan bahwa era Crewed-Uncrewed Teaming telah tiba. Konsep Loyal Wingman bergerak dari fiksi ilmiah ke kenyataan operasional, membentuk ulang cara pesawat tempur generasi kelima dan keenam akan beroperasi dalam konflik masa depan. Dengan investasi terus-menerus pada otonomi dan arsitektur terbuka, USAF memperkuat kemampuan tempurnya dengan cara yang memiliki dampak besar.


