Sekolah Rakyat kembali mendapat dorongan kebijakan nasional dengan pengajaran enam bahasa asing sebagai bagian dari kurikulum wajib. Keputusan ini tidak hanya merupakan inovasi dalam dunia pendidikan, tetapi juga dianggap sebagai langkah strategis pemerintah untuk mengatasi kesenjangan sosial dengan meningkatkan kualitas SDM dari keluarga miskin dan sangat miskin. Mukhtarudin, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), mengungkapkan bahwa kemampuan berbahasa asing saat ini sangat penting dalam mobilitas ekonomi di era global. Dengan memberikan akses ini secara gratis kepada kelompok rentan, Sekolah Rakyat diharapkan dapat membawa keadilan pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Enam bahasa asing yang diajarkan di Sekolah Rakyat, termasuk Inggris, Arab, Jepang, Korea, Mandarin, dan Jerman, dipilih sesuai dengan permintaan industri global dan negara mitra penempatan tenaga kerja. Selain itu, wacana untuk menambahkan Bahasa Portugis juga sedang dibahas untuk memperkuat kerjasama dengan negara-negara Eropa Selatan. Pimpinan Sekolah Rakyat menjelaskan bahwa kurikulum multibahasa ini tidak hanya fokus pada pembelajaran bahasa saja, tetapi juga terintegrasi dengan pelatihan vokasi guna membuka peluang kerja di sektor industri dalam dan luar negeri.
Program Sekolah Rakyat memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memberikan ijazah kepada siswa. Mereka berusaha menciptakan SDM yang kompetitif secara ekonomi. Dengan penerapan pendekatan *link and match*, lulusan Sekolah Rakyat dipersiapkan secara menyeluruh untuk langsung terhubung dengan pasar kerja yang membutuhkan keterampilan terampil. Saat ini, terdapat 166 Sekolah Rakyat yang aktif di berbagai daerah, yang wajib menerapkan modul bahasa asing dan pelatihan vokasi tanpa biaya bagi siswa.
Melalui program multibahasa ini, Sekolah Rakyat diharapkan dapat membuka peluang bagi siswa dari latar belakang kurang mampu untuk meningkatkan pendapatan keluarga, memperkuat ekonomi, serta membantu mengurangi tingkat kemiskinan secara struktural. Keseluruhan, program ini menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya slogan semata, melainkan strategi nyata untuk mengurangi kesenjangan sosial dan membuka peluang masa depan global bagi seluruh anak Indonesia.


