Golden Dome adalah proposal terbaru dalam kerangka arsitektur pertahanan rudal dan udara terintegrasi yang ditujukan untuk memperkuat keamanan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya menghadapi ancaman rudal balistik, jelajah, dan hipersonik dari Cina, Rusia, dan Korea Utara. Berbeda dengan sistem pertahanan area kecil seperti Iron Dome, Golden Dome adalah sebuah konsep macro-level yang bertujuan mengintegrasikan semua aset pertahanan udara ke dalam satu jaringan komando, kontrol, dan komunikasi di wilayah operasional yang luas. Dari lembaga think tank terkemuka di AS, proposal Golden Dome mendorong Pentagon untuk mengkonsolidasikan dan memodernisasi upaya pertahanan rudal yang tersebar, dengan dukungan dari komunitas pertahanan termasuk Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Konsep Golden Dome muncul sebagai respons terhadap kemampuan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) Cina yang berkembang, ancaman Rudal Hipersonik sulit dilacak, dan untuk memperkuat aliansi di Indo-Pasifik. Untuk mencapai hal ini, Golden Dome akan mengintegrasikan semua aset pertahanan seperti rudal Patriot, THAAD, Aegis di kapal, dan jet tempur melalui jaringan data yang cepat dan terhubung dengan system JADC2 AS.
Dengan fokus pada pertahanan terhadap serangan saturation, Golden Dome akan mampu menangkis serangan bersamaan dengan menggunakan berbagai sistem pertahanan seperti THAAD, Patriot, dan Aegis. Pentingnya Golden Dome juga terlihat dalam upaya memperluas sistem ini ke negara-negara sekutu untuk menciptakan pertahanan regional yang efektif. Konsep ini membedakannya dari Iron Dome Israel, yang lebih merupakan perlindungan domestik daripada keamanan koalisi di kawasan Indo-Pasifik.
Golden Dome mewakili perubahan filosofi dalam operasi udara modern AS dan sekutunya, dengan tujuan menghilangkan keterpisahan antar sistem pertahanan yang berbeda. Meskipun sebagai sistem pertahanan, Golden Dome dilihat oleh Cina dan Rusia sebagai alat AS untuk memproyeksikan kekuatan dan mempertahankan superioritas teknologi di wilayah yang semakin diperebutkan. Sebuah langkah yang tak terhindarkan ini dapat memicu perlombaan senjata baru di mana AS akan meningkatkan pertahanannya, sementara Cina dan Rusia fokus pada pengembangan rudal yang lebih kuat dan cepat.


