Sebuah rekaman video yang beredar menegaskan kekhawatiran Pentagon terkait kehilangan unit utuh sistem Directional Infrared Countermeasure (DIRCM) yang diduga jatuh ke tangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Perangkat yang ditemukan adalah jenis AN/AAQ-24(V) Large Aircraft Infrared Countermeasures (LAIRCM) buatan Northrop Grumman yang ditemukan dari puing-puing sebuah pesawat militer AS yang jatuh di wilayah perbatasan Irak/Iran. Keberhasilan Iran dalam mendapatkan teknologi canggih ini dianggap sebagai hadiah intelijen yang luar biasa. Iran berpotensi untuk melakukan rekayasa balik terhadap sistem ini, dengan fokus utama untuk menganalisis modulasi energi laser yang digunakan oleh LAIRCM. Hal ini bisa membantu Iran mengembangkan sistem penangkal domestik atau memodifikasi rudal mereka agar tak terpengaruh oleh gangguan laser DIRCM di masa depan.
Dengan teknologi ini di tangan Iran, kemungkinan adanya pembagian informasi ke Rusia dan China juga meningkat. Informasi teknis dari unit AAQ-24(V) ini dapat membantu Rusia dan China mengadaptasi rudal mereka agar lebih efektif dalam menghadapi frekuensi laser yang dipancarkan oleh pesawat-pesawat AS seperti C-17 Globemaster hingga helikopter Chinook. Kejadian ini menandai kehilangan keunggulan teknologi kunci AS dalam perlindungan aset udara berharga. Karena unit tersebut tak hancur total dan berada dalam kondisi cukup baik, musuh AS sekarang memiliki kesempatan untuk mempelajari algoritma pertahanan inframerah Barat secara langsung. Dengan demikian, Iran, Rusia, dan China kini memiliki peluang untuk menembus perisai laser yang selama ini melindungi logistik udara AS dan NATO.


