Thursday, January 22, 2026
HomeMiliterParlemen Perancis: Biaya Eurofighter Typhoon Lebih Mahal dari Dassault Rafale

Parlemen Perancis: Biaya Eurofighter Typhoon Lebih Mahal dari Dassault Rafale

Sebuah pernyataan tajam dari anggota parlemen Perancis baru-baru ini memicu debat mengenai efisiensi biaya jet tempur di Eropa. Dalam sebuah laporan resmi yang diajukan ke Parlemen Perancis (Assemblée Nationale) pada 28 Oktober 2025, disebutkan bahwa jet tempur Eurofighter Typhoon memerlukan biaya hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan jet tempur kebanggaan Perancis, Dassault Rafale. Pernyataan ini bukan sekadar klaim kosong di media sosial, melainkan bagian dari tinjauan strategis mengenai anggaran pertahanan Perancis dan masa depan kemitraan industri militer lintas negara di Eropa.

Klaim ini muncul dari Frank Giletti, seorang anggota parlemen Perancis yang duduk di Komisi Pertahanan. Konteks utamanya adalah kekhawatiran Perancis terhadap program Future Combat Air System (FCAS)—sebuah proyek pesawat tempur generasi keenam yang dikembangkan bersama oleh Perancis, Jerman, dan Spanyol. Perancis menggunakan perbandingan biaya antara Rafale dan Eurofighter sebagai “peringatan”. Mereka berargumen bahwa model kolaborasi multilateral (seperti yang diterapkan pada Eurofighter) cenderung menciptakan birokrasi yang gemuk, rantai pasok yang tumpang tindih, dan pada akhirnya membengkakkan biaya. Perancis ingin memastikan bahwa dalam proyek FCAS di masa depan, kepemimpinan industri tetap efisien dan tidak mengulangi “kesalahan” yang terjadi pada Eurofighter.

Dalam laporan tersebut, istilah “biaya” yang disebutkan mencakup dua aspek utama. Pertama, Biaya Akuisisi. Laporan tersebut mengutip angka yang menunjukkan bahwa harga per unit Eurofighter Typhoon (terutama varian terbaru Tranche 4 atau 5) melonjak drastis. Sebagai perbandingan, Rafale dalam pesanan terbaru Perancis (42 unit di tahun 2024), harga rata-rata per unit diperkirakan berada di angka €119 juta. Sementara pesanan terbaru Typhoon dari negara mitra seperti Jerman dan Spanyol menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi, bahkan menyentuh kisaran €160 juta hingga €187 juta per unit tergantung pada konfigurasi dan paket pendukungnya.

Kedua, Biaya Operasional dan Pemeliharaan. Ini adalah poin yang paling disorot. Biaya operasional Eurofighter dianggap jauh lebih mahal karena kompleksitas logistik akibat diproduksi oleh konsorsium (Inggris, Jerman, Italia, Spanyol), suku cadang dan rantai pasoknya tersebar di berbagai negara. Biaya per jam terbang Eurofighter dilaporkan jauh melampaui Rafale. Beberapa data menunjukkan pemeliharaan Eurofighter membengkak hingga dua kali lipat dari estimasi awal, sementara Rafale diuntungkan oleh desain yang lebih “ramping” karena dikembangkan secara mandiri oleh satu negara (Perancis).

Giletti dan anggota parlemen lainnya berpendapat bahwa kemandirian industri Perancis melalui Dassault Aviation memungkinkan kontrol biaya yang lebih ketat. Sebaliknya, Eurofighter harus mengakomodasi kepentingan politik dan industri dari empat negara yang berbeda, yang seringkali menyebabkan penundaan teknis dan duplikasi pekerjaan yang tidak perlu. Berita ini tentu memanaskan hubungan diplomatik antara beberapa negara Eropa yang terlibat. Jerman dan Inggris (sebagai pengguna utama Eurofighter) seringkali membela jet mereka dengan argumen performa yang superior dalam pertempuran udara-ke-udara. Namun, bagi Perancis, angka-angka ini adalah senjata untuk menegaskan bahwa Rafale adalah pilihan yang lebih masuk akal secara ekonomi ( value for money ) dan lebih mandiri secara strategis.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER