Ranjau laut konvensional telah menjadi perhatian utama di Selat Hormuz, dengan ranjau seri Maham Iran yang muncul sebagai ancaman maut di kedalaman laut. Pengembangan ranjau laut ini oleh Marine Industries Organization (MIO) di bawah Kementerian Pertahanan Iran adalah bukti teknologi pertahanan yang mandiri dari Teheran, menghadapi dominasi armada Barat. Berbeda dengan ranjau kontak lama, seri Maham dirancang sebagai “ranjau pintar” dengan deteksi rendah namun daya rusak yang tinggi. Varian pertama, Maham 3, seberat 300 kg dapat mendeteksi kapal tanpa perlu menyentuhnya, sedangkan Maham 7 dirancang sebagai ranjau dasar laut seberat 220 kg dengan desain kerucut yang unik untuk menghindari sensor lawan.
Meskipun efektifitas seri Maham dalam menciptakan “benteng bawah laut” terbukti, Iran menghadapi kesulitan dalam memantau dan mencari kembali lokasi ranjau yang telah mereka tebar. Arus laut kuat di Selat Hormuz membuat ribuan ranjau hanyut dan berpindah posisi, menyebabkan Iran kehilangan kendali atas ranjau mereka sendiri. Fitur pemrograman canggih Maham membuat ranjau-ranjau ini menjadi ancaman yang tidak dapat diprediksi bagi siapa pun. Penggunaan ranjau ini memberikan Iran kekuatan strategis dengan biaya rendah, namun dengan hilangnya kendali atas posisi ranjau-ranjau, risiko “senjata makan tuan” semakin nyata.
Meskipun pengguna utama ranjau Maham adalah Angkatan Laut Iran (IRIN) dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGCN), ada kekhawatiran bahwa teknologi ranjau serupa telah ditransfer ke kelompok Houthi di Yaman untuk digunakan di Laut Merah. Dalam situasi ini, profil teknis Maham 3 dan Maham 7 menjadi simbol dari strategi pertahanan yang efektif sekaligus krisis keamanan maritim yang sulit dijinakkan.


