Dalam dunia penerbangan, pemandangan dua parasut putih yang mengembang di ekor pesawat jet tempur Sukhoi Su-27 atau Su-30 TNI AU saat melakukan pendaratan merupakan hal yang ikonik bagi netizen. Komponen vital yang bertanggung jawab atas hal tersebut adalah PTS-10SK Drag Chute, dirancang oleh NII Parachutostroeniya, lembaga riset asal Rusia yang mengkhususkan diri dalam pengembangan sistem parasut untuk kebutuhan militer dan antariksa.
Sistem parasut PTS-10SK mulai digunakan secara luas sejak era 1980-an seiring dengan operasional massal pesawat keluarga Su-27 Flanker di Uni Soviet. Desain unik dari PTS-10SK, yaitu kubah ganda (double-canopy), dipilih untuk menjamin stabilitas saat parasut diterjang aliran udara panas dari dua mesin Lyulka Saturn yang kuat.
Material nilon sintetis khusus yang tahan panas digunakan untuk membuat PTS-10SK, dengan kemampuan menahan beban pesawat seberat 20 hingga 30 ton pada kecepatan tinggi. Pesawat-pesawat seperti Sukhoi Seri Su-27, Su-30, Su-33, Su-34, Su-35, serta varian MiG-29 dan MiG-35 menggunakan sistem serupa ini.
Pengoperasian PTS-10SK melibatkan koordinasi presisi antara sistem mekanik pesawat dan tindakan pilot. Prosedur yang tepat sangat penting untuk memastikan pendaratan pesawat dengan aman tanpa risiko overrun. Di Indonesia, penggunaan PTS-10SK sangat penting mengingat kondisi landasan yang terkadang terbatas atau basah akibat cuaca. PTS-10SK memungkinkan jet tempur Su-30 MK2 mendarat dengan aman tanpa harus khawatir tentang risiko keluar landasan dan menghemat biaya perawatan lanjutan.


