Program pengadaan kapal selam nuklir Australia senilai Aus$368 miliar kini berada di persimpangan yang krusial. Amerika Serikat, yang sebelumnya berkomitmen untuk mentransfer kapal selam Virginia class kepada Canberra, saat ini meragukan kemampuannya karena produksi kapal selam di galangan kapal AS belum memenuhi target yang dibutuhkan. Industri AS hanya mampu menghasilkan rata-rata 1,2 unit kapal selam per tahun, sedangkan targetnya adalah dua unit per tahun. Keterbatasan produksi ini membuat Presiden AS kesulitan memberikan sertifikasi penjualan kapal tersebut.
Di dalam negeri, Australia juga menghadapi kritik dari Partai Hijau Australia terkait kesepakatan AUKUS. Partai ini menyatakan bahwa ketergantungan terlalu besar pada AS tidak hanya menguras anggaran negara tapi juga mengurangi kedaulatan nasional. Mantan Laksamana Australia bahkan meminta pembatalan proyek pengadaan kapal selam nuklir Virginia dan AUKUS class.
Dinamika geopolitik di AS, terutama di bawah pemerintahan Trump, memberikan ketidakpastian baru terkait transfer teknologi ke Australia. Selain itu, usulan agar kapal selam nuklir tetap di bawah kendali AS namun dioperasikan dari pangkalan di Australia juga menciptakan keraguan terkait peran Australia dalam konflik di kawasan.
Visi besar AUKUS kini dipertanyakan karena tanpa jaminan hukum yang kuat, Australia berisiko terjebak dalam kontrak yang tidak seimbang. Jika AS mempertahankan kendali operasional atas kapal selam, Australia tidak lagi menjadi pemilik kekuatan bawah laut yang mandiri. Hal ini membuat banyak pihak di Canberra mempertimbangkan kembali apakah investasi dalam kapal selam nuklir masih merupakan solusi terbaik untuk pertahanan nasional di masa depan.


