Gelombang aspirasi perubahan mulai menguat di tubuh Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dengan beberapa Dewan Pimpinan (DP) yang menyatakan mosi tidak percaya terhadap Ketua Umum Kowani, Ny. Nannie Hadi Tjahjanto SH. Hal ini disampaikan sebagai keprihatinan terhadap kepemimpinan yang dinilai menyimpang dari prinsip etika dan tata kelola organisasi. Dalam konferensi pers yang diadakan di Kantor Kowani Jakarta, Sekjen Kowani Tantri Dyah Kiranadewi dan pengurus lainnya menegaskan perlunya pembenahan menyeluruh untuk menjaga marwah organisasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia.
Mosi tersebut bukan hanya dalam bentuk kritik, tetapi juga sebagai panggilan moral untuk menyelamatkan Kowani dari krisis kepemimpinan yang menghambat agenda pemberdayaan perempuan dan melemahkan semangat kolektif. Beberapa poin utama yang menjadi dasar mosi antara lain pelanggaran mekanisme kolektif-kolegial dalam pengambilan keputusan strategis, kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program, gaya kepemimpinan otoriter yang membatasi dialog dan kritik internal, serta stagnasi program-program strategis yang seharusnya menjadi garda depan perjuangan perempuan.
Para pengurus khawatir kondisi ini telah mencapai titik kritis yang dapat merusak integritas dan kredibilitas Kowani sebagai organisasi teladan dalam demokrasi internal dan isu perempuan. Mereka menegaskan bahwa mosi ini bukan untuk memecah organisasi, namun sebagai upaya penyelamatan. Dewan Pimpinan mendesak untuk dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Ketua Umum, penyelenggaraan sidang luar biasa organisasi, dan langkah-langkah konstitusional untuk memastikan transisi kepemimpinan yang kredibel. Tujuan dari mosi ini adalah agar Kowani kembali fokus pada nilai-nilai demokrasi, transparansi, dan keberpihakan pada perempuan Indonesia.


