Ketegangan di kawasan Asia Timur mencapai titik didih baru setelah Pasukan Bela Diri Udara Jepang (JASDF) melakukan aksi scramble besar-besaran yang jarang terjadi. Pada 27 Desember 2025, Jepang mengerahkan sedikitnya 16 unit jet tempur F-2 untuk mencegat gugus tempur Angkatan Laut Cina yang mencoba melintasi perairan strategis di dekat Prefektur Okinawa. Bukan sekadar prosedur identifikasi rutin, aksi kali ini dianggap sebagai pesan deteren yang sangat kuat. Ke-16 jet tempur tersebut dilaporkan terbang dalam konfigurasi tempur penuh, mengusung total 64 unit rudal jelajah anti-kapal ASM-2. Operasi kilat ini dilakukan dengan respons luar biasa, di mana jet-jet tersebut berhasil lepas landas hanya dalam waktu kurang dari 12 menit setelah alarm peringatan berbunyi.
Insiden ini terjadi di Selat Miyako, jalur perairan internasional sempit yang memisahkan pulau utama Okinawa dan Pulau Miyako. Selat ini merupakan pintu keluar utama bagi Angkatan Laut Cina (PLA-N) untuk mengakses Samudra Pasifik terbuka. Armada Cina yang dihadapi adalah sebuah kelompok tugas (task group) yang dipimpin oleh kapal perusak (destroyer) Type 055 Renhai class dan dikawal oleh dua kapal perusak Type 052D serta satu fregat Type 054A. Kehadiran 16 unit jet F-2 dengan puluhan rudal anti-kapal di atas mereka memaksa armada Cina untuk tetap berada di jalur internasional dan membatalkan rencana latihan manuver di wilayah tersebut.
Jet tempur F-2 merupakan tulang punggung pertahanan maritim Jepang. Pesawat ini sering dijuluki sebagai “Viper Zero” karena desainnya yang merupakan pengembangan dari F-16 milik Amerika Serikat namun dengan sentuhan teknologi canggih Jepang. Diproduksi oleh Mitsubishi Heavy Industries (MHI) melalui kerja sama dengan Lockheed Martin, jet ini mulai masuk dinas militer Jepang pada tahun 2000. Dibandingkan dengan F-16 standar, F-2 memiliki sayap yang 25 persen lebih besar untuk stabilitas saat terbang rendah di atas laut dan hidung yang dilengkapi radar AESA (Active Electronically Scanned Array,) untuk mendeteksi kapal perang dari jarak jauh. Keunggulan utama F-2 adalah kemampuannya membawa hingga empat rudal anti-kapal berukuran besar sekaligus, sebuah kapasitas yang jarang dimiliki oleh jet tempur ringan sekelasnya. Rudal jelajah anti-kapal ini diproduksi oleh perusahaan Jepang, Mitsubishi Electric, dan mulai digunakan secara operasional sejak tahun 1993. Meskipun sudah ada versi yang lebih baru (ASM-3), ASM-2 tetap menjadi andalan karena keandalannya yang sangat tinggi. ASM-2 menggunakan sistem pemandu imaging infrared (IIR), yang artinya rudal ini tidak bergantung pada radar untuk mencari target. Hal ini membuat ASM-2 sangat sulit dideteksi atau dikecoh oleh sistem pengacak radar (jamming) milik kapal perang lawan.
Aksi scramble dalam jumlah besar ini menunjukkan pergeseran doktrin Jepang yang kini lebih berani menunjukkan kekuatan fisik. Dengan mengerahkan 16 pesawat tempur sekaligus, Tokyo ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kesiapan logistik dan operasional untuk mengunci armada laut mana pun yang dianggap mengancam kedaulatan mereka. Langkah ini dipandang para analis sebagai jawaban langsung atas uji coba rudal hipersonik YJ-20 milik Cina yang terjadi hanya sehari sebelumnya. Di tengah ketegangan yang meningkat, langit di atas Selat Miyako kini menjadi saksi adu urat saraf antara kekuatan udara Jepang dan kekuatan laut Cina.


