Polemik impor 105 ribu pikap dari India untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih terus menjadi perbincangan hangat. Meski menuai protes dari kalangan industri dalam negeri, impor kendaraan tersebut diharapkan dapat menguatkan distribusi ekonomi di tingkat desa. Rencana pengadaan senilai Rp24,66 triliun tersebut mencakup 35 ribu unit Mahindra Scorpio Pickup, bersama dengan 70 ribu unit Tata Yodha Pick-Up dan Ultra T.7 Light Truck. Kendaraan-kendaraan ini akan diperuntukkan bagi sekitar 70 ribu koperasi desa yang menjadi motor penggerak utama dalam program pemerintah untuk memperkuat ekonomi lokal.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menganggap bahwa impor kendaraan Completely Built Up (CBU) berisiko melemahkan industri otomotif nasional. Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin, Saleh Husin, menyebutkan bahwa produksi pikap dalam negeri sebenarnya memiliki kapasitas mencapai 400 ribu unit setiap tahun. Dengan demikian, kebijakan impor tersebut dikhawatirkan dapat menekan produsen komponen dalam negeri dan mengurangi efek pengganda ekonomi.
Namun, PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan tersebut menegaskan bahwa keputusan impor diambil dengan alasan efisiensi. Direktur Utama Joao Angelo De Sousa Mota menjelaskan bahwa harga kendaraan dari India jauh lebih murah, sekitar 50 persen dibanding produk serupa di pasar domestik. Ia juga menambahkan bahwa spesifikasi 4×4 sangat sesuai untuk medan berat di pedesaan, sementara kapasitas produksi dalam negeri tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan besar dalam waktu singkat.
Pemerintah melalui Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan bahwa impor tersebut sesuai dengan regulasi tanpa memerlukan izin khusus. Hingga saat ini, sekitar 1.000 unit kendaraan telah tiba di Indonesia, dengan target penyelesaian pada akhir 2026. Meskipun terdapat perdebatan mengenai efisiensi anggaran versus perlindungan industri nasional, koperasi desa berharap bahwa kendaraan tersebut akan benar-benar mendukung distribusi hasil pertanian serta memperkuat ekonomi lokal. Publik menantikan langkah selanjutnya dari pemerintah, apakah kebijakan impor akan tetap dilanjutkan atau dievaluasi agar kepentingan desa dan industri otomotif dalam negeri dapat seimbang.


