Penanganan Gempa NTT dan Karhutla: Prioritas Presiden dalam Rangka Pandemi Gempa
Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi sorotan publik terkait prioritas Presiden Prabowo Subianto. Namun, data lapangan menunjukkan bahwa respons negara terhadap kedua bencana tersebut dilakukan secara simultan dan terencana.
Pengerahan Sumber Daya dalam Penanganan Bencana
Pada 24 Agustus 2026, Pemerintah Indonesia mengirimkan bantuan ke NTT dan Kalimantan secara bersamaan. Enam pesawat TNI AU dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma dikerahkan untuk membawa bantuan logistik ke NTT dan mesin pompa air untuk memadamkan karhutla di Kalimantan.
Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Presiden Prabowo turut mengamati situasi di Kalimantan sebagai bagian dari respons pemerintah terhadap kedua bencana tersebut. Pengerahan pesawat dilakukan sesuai dengan kebutuhan mendesak di masing-masing wilayah.
Distribusi Bantuan dan Kunjungan Presiden
Hingga 30 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat total bantuan yang tersalurkan untuk korban gempa di NTT sebanyak 1.954 ton. Distribusi bantuan dilakukan melalui jalur udara, laut, dan darat untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi.
Presiden Prabowo sendiri menyambangi langsung Kabupaten Nagekeo, NTT, pada 26 Agustus 2026. Selama kunjungan tersebut, Presiden membahas evaluasi penanganan bencana dan menyalurkan bantuan kemasyarakatan senilai Rp200 miliar.
Tantangan Pemulihan dan Prioritas Nasional
Meskipun jumlah pengungsi per 30 Agustus 2026 mulai menurun, tantangan pemulihan masih besar. BNPB mencatat sebanyak 95.567 rumah rusak akibat gempa, yang memerlukan perhatian ekstra pada pembangunan hunian sementara dan infrastruktur dasar.
Sementara itu, penanganan karhutla di Kalimantan tetap menjadi fokus nasional. Pemerintah telah meningkatkan upaya pemadaman dengan menambah sumber daya seperti pesawat water bombing dan personel tambahan di lapangan.


