Pada 7 Desember 2025, Angkatan Udara Thailand (RTAF) menggunakan jet tempur F-16A Fighting Falcon untuk melakukan serangkaian serangan udara taktis terhadap sasaran militer Kamboja di dekat perbatasan. Salah satu sasaran utama serangan tersebut adalah kompleks Kasino Chong Arn Ma di Distrik Nam Yuen, Provinsi Ubon Ratchathani. Serangan ini merupakan bagian dari respons militer Thailand terhadap eskalasi bentrokan dengan Kamboja yang terjadi sebelumnya pada Juli 2025 dan memanas kembali pada Desember 2025, meskipun telah ada perjanjian gencatan senjata.
Berdasarkan laporan intelijen militer Thailand, kompleks Kasino Chong Arn Ma dan resor terbengkalai lainnya di zona perbatasan digunakan oleh Angkatan Darat Kamboja (RCAF) sebagai Pusat Komando dan Kendali (C2) serta depot amunisi/logistik untuk unit artileri Kamboja. Serangan F-16 dilakukan sebagai balasan langsung terhadap tembakan roket BM-21 dan artileri yang diluncurkan oleh Kamboja ke wilayah sipil dan pangkalan militer Thailand di sekitar Ubon Ratchathani dan Sisaket.
F-16A Fighting Falcons RTAF dikerahkan dari pangkalan udara di Thailand Timur Laut untuk melakukan misi serangan udara presisi terhadap posisi komando Kamboja di Chong Arn Ma. Konflik antara Thailand dan Kamboja telah mengakibatkan duel artileri dan peluncuran roket yang meluas, memaksa evakuasi lebih dari 100.000 warga sipil di kedua sisi perbatasan.
Penggunaan kekuatan udara melalui F-16A Fighting Falcon menunjukkan peningkatan eskalasi dalam konflik ini, dengan tujuan menghancurkan infrastruktur komando dan logistik Kamboja yang dianggap mengancam kedaulatan dan keamanan warga sipil Thailand. Serangan dilengkapi dengan senjata presisi berpemandu, seperti bom berpemandu laser GBU-12 Paveway II atau bom berpemandu GPS/Inersia GBU-38 JDAM, untuk menyerang sasaran bernilai tinggi.
Pemerintah Kamboja sangat mengecam serangan F-16 Thailand dan menuduh Bangkok melanggar perjanjian gencatan senjata. Perdana Menteri Kamboja menyebut serangan udara tersebut sebagai “tindakan yang tidak beralasan” dan “eskalasi yang brutal”. Kamboja juga melaporkan adanya korban jiwa dan luka serius pada warga sipil sebagai akibat dari serangan tersebut.


