Serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi melebihi perkiraan. Berbagai pesawat pengeboran ulang dan juga E-3 Sentry AWACS dilaporkan menjadi salah satu pesawat yang rusak dalam serangan tersebut. Setidaknya 15 tentara AS terluka, termasuk lima yang mengalami luka parah. Selain menghantam E-3 AWACS, serangan Iran juga menyebabkan kerusakan pada armada pesawat tanker, dari 3 hingga 4 unit KC-135 Stratotanker yang dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi.
Serangan ini menyebabkan pertimbangan serius tentang keefektifan sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD yang melindungi Pangkalan Udara Prince Sultan. Meskipun sebelumnya diklaim bahwa dua pertiga kemampuan produksi rudal Iran telah dinetralisir, keberhasilan serangan ini menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk meluncurkan serangan presisi ke titik-titik kunci lawan.
Bagi USAF, kehilangan E-3 Sentry adalah kerugian yang sulit untuk digantikan. Meskipun E-7 Wedgetail merupakan penggantinya, namun belum tersedia dalam jumlah operasional yang cukup. Insiden ini memunculkan pertanyaan mengenai pemilihan E-2D Hawkeye sebagai pengganti E-3 Sentry oleh USAF. Dengan perlunya waktu yang lebih lama dan biaya operasional yang lebih tinggi untuk mendatangkan bantuan tanker dari pangkalan yang lebih jauh, serangan ini memberikan dampak yang signifikan terhadap operasi militer koalisi di kawasan.


