Penemuan sebuah Autonomous Underwater Vehicle (AUV) di sekitar perairan strategis Selat Lombok telah menimbulkan diskusi mengenai kedaulatan laut dan aktivitas bawah air di wilayah Indonesia. Meskipun pemiliknya belum dikonfirmasi secara resmi, unit tersebut mirip dengan Qianlong-1, sebuah perangkat eksplorasi laut dalam dari Cina. Proyek AUV ini berasal dari rencana lima tahun ke-12 Cina yang dipimpin oleh Shenyang Automation Institute, bekerja sama dengan Institute of Acoustics (Chinese Academy of Sciences) dan Harbin Engineering University. Qianlong-1 merupakan AUV pertama Cina dengan hak kekayaan intelektual sendiri yang mampu menyelam hingga kedalaman 6.000 meter, menandai kemajuan besar dalam ambisi maritim Beijing.
Dengan profil fisik berupa torpedo berukuran 4,6 meter, diameter 0,8 meter, dan berat 1.500 kg, Qianlong-1 dilengkapi dengan teknologi canggih untuk operasi lebih dari 24 jam secara terus-menerus. Selain itu, perangkat ini memiliki kemampuan navigasi otonom dan sistem pemosisian akustik yang memungkinkan pemantauan dari permukaan meski berada di kedalaman besar. Drone ini dilengkapi dengan side scan sonar untuk pemetaan tekstur dasar laut, sistem penghindar tabrakan, dan sensor pengumpul data oseanografi.
Data yang dikumpulkan, meskipun untuk tujuan komersial dan ilmiah, juga sangat penting untuk operasi kapal selam. Pemahaman mengenai kondisi arus dan topografi dasar laut di wilayah seperti Selat Lombok memiliki peran kunci dalam navigasi bawah air yang aman. Qianlong-1 biasanya dioperasikan dari kapal riset oseanografi kelas berat Cina, seperti kapal riset dari seri Xiang Yang Hong. Kapal-kapal ini dilengkapi dengan sistem pendukung permukaan yang memungkinkan peluncuran dan pemulihan AUV dalam kondisi laut sulit.
Kehadiran drone mirip Qianlong-1 di Selat Lombok kemungkinan membawa misi hidro-oseanografi. Selat Lombok merupakan jalur ALKI yang vital dengan profil bawah laut kompleks. Meskipun China mengklaim penggunaan drone ini untuk penelitian sumber daya mineral, penemuan di luar zona kontrak pertambangan internasional menimbulkan spekulasi akan nilai strategis pengumpulan data lingkungan mereka bagi keamanan maritim di wilayah tersebut.


