Peluang Indonesia dan Perancis Saat NSM Dibatasi
Kebijakan Pemerintah Norwegia yang membatalkan kontrak pengadaan Naval Strike Missile (NSM) dengan Malaysia tak hanya mengguncang Kuala Lumpur, namun juga membuka peluang baru bagi Indonesia dan Perancis. Langkah dramatis ini membuat NSM menjadi senjata eksklusif hanya untuk Amerika Serikat, Australia, dan anggota NATO. Bagaimana peluang Indonesia dan Perancis merespon situasi ini?
Implikasi Bagi Indonesia
Dampak penutupan akses ke NSM bukan hanya dirasakan oleh Malaysia, namun juga Indonesia yang harus mengubur ambisinya mengadopsi rudal ini. Keterbatasan akses ini juga berarti menutup peluang integrasi NSM pada kapal perang generasi mendatang milik TNI AL. Langkah tegas Norwegia ini tentu memukul kinerja pemasaran Kongsberg, sebelumnya yang sangat gencar mempromosikan NSM di pasar global.
Peluang Indonesia untuk mengadopsi NSM terutup rapat, dan hal ini menuntut kebijakan baru dalam merancang sistem senjata pada kapal perang. Munculnya embargo NSM menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.
Peluang Baru bagi Perancis
Sementara itu, kebijakan pembatasan ekspor NSM justru membuka peluang bagi Perancis, terutama produsen rudal legendaris Exocet MM40 Series, seperti MBDA Missile Systems. Dengan NSM terlarang bagi negara non-NATO, Exocet menjadi alternatif logis bagi negara-negara yang menggunakan standar arsitektur dan CMS barat pada kapal perang mereka.
Perancis dengan Exocet MM40 Block 3 atau Block 3c diprediksi akan semakin memperkuat dominasinya di perairan Asia Tenggara. Negara-negara di kawasan harus lebih berhati-hati dalam memilih mitra strategis yang tidak terikat oleh embargo politik di masa depan.
Peluang Indonesia dan Perancis terbuka lebar setelah Norwegia membatalkan kontrak pengadaan NSM dengan Malaysia. Situasi ini menuntut kedua negara untuk lebih inovatif dalam merancang sistem senjata pada kapal perang mereka, sekaligus menjaga kebebasan dari pembatasan ekspor yang sewenang-wenang.


