AS Space Force Memperluas Jaringan Pengawasan Satelit di Australia sebagai Langkah Lawan Ancaman Cina dan Rusia
Komando Pasukan Ruang Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) mengumumkan ekspansi jaringan pengawasan satelit mereka di Australia sebagai respons terhadap potensi ancaman senjata anti-satelit (Anti-Satellite Weapons/ASAT) dari Cina dan Rusia. Dalam kunjungan Kepala Intelijen US Space Force, Letjen Gregory Gagnon ke Australia, kesiapan dalam menghadapi tantangan di domain luar angkasa di Indo Pasifik diprioritaskan.
Lingkungan Pertahanan Luar Angkasa di Australia Barat
Dilaporkan bahwa Stasiun Komunikasi Angkatan Laut Harold E. Holt di Australia Barat menjadi pilar utama dalam pertahanan antirudal luar angkasa. Unit Pengawasan Ruang Angkasa No. 1 dari Angkatan Pertahanan Australia (ADF) beroperasi di sana dengan menggunakan sistem radar C-Band dan Space Surveillance Telescope (SST) berat 100 ton. Teleskop SST memiliki kemampuan unik untuk melacak objek di orbit geostasioner hingga 36.000 km, yang merupakan area kritis bagi satelit intelijen dan sistem peringatan dini rudal.
Radar C-Band juga turut memantau orbit rendah dan menengah, sehingga setiap aktivitas mencurigakan di angkasa dapat terdeteksi. Langkah defensif ini menjadi semakin penting mengingat Cina dan Rusia diketahui telah meningkatkan kemampuan senjata anti-satelit mereka di luar angkasa.
Ancaman Serius dari Cina dan Rusia di Luar Angkasa
Cina dilaporkan memiliki sistem ASAT yang operasional dan terus mengembangkan teknologi yang dapat mencapai satelit di orbit rendah maupun di orbit sinkron bumi. Dengan lebih dari 510 satelit ISR yang dimilikinya, Cina memiliki kemampuan untuk melacak aktivitas militer secara real-time.
Di sisi lain, Rusia juga tidak kalah aktif dalam menguji rudal ASAT dan melakukan manuver pendekatan jarak dekat terhadap satelit keamanan nasional AS. Hal ini menunjukkan eskalasi persaingan di luar angkasa yang dapat berdampak langsung pada kegiatan militer di darat dan laut.
Sebagai upaya jangka panjang, AUKUS (AS, Australia, Inggris) bekerja sama untuk membangun Deep Space Advanced Radar Capability (DARC) di Australia Barat. Diperkirakan DARC akan siap beroperasi pada tahun 2027 dan memberikan kemampuan untuk melacak objek kecil di orbit dengan presisi tinggi sebagai langkah atribusi terhadap serangan terhadap satelit.
Semua langkah ini diambil untuk memastikan ketahanan dan keamanan di luar angkasa tetap terjaga, demi mendukung operasi militer di dunia maya yang semakin kompleks. Dengan semakin meningkatnya potensi ancaman, kerja sama antarnegara menjadi kunci dalam menghadapi tantangan baru di era digital ini.


