Saturday, September 12, 2026
HomeLainnyaAnnual Dinner 2026 Menjadi Bukti Konsistensi Paseban Foundation

Annual Dinner 2026 Menjadi Bukti Konsistensi Paseban Foundation

Keberadaan lima spesies primata di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kembali mempertegas pentingnya kawasan ini bagi pelestarian keanekaragaman hayati Jawa yang terus terancam modernisasi dan pertumbuhan penduduk. Upaya penemuan mereka, yang dilakukan oleh tim Paseban Foundation melalui survei terpadu dan pemasangan kamera jebak, menjadi bukti bahwa potensi alam pegunungan di pinggir kota Jakarta masih menyimpan kekayaan satwa langka.

Pada acara tahunan Paseban Foundation Annual Dinner 2026 di Jakarta yang juga memperingati Hari Konservasi Alam Nasional, temuan tersebut dikemukakan sebagai bagian dari refleksi capaian dua tahun kerja yayasan di bidang konservasi. Dalam kesempatan itu, Wahdi Azmi selaku Direktur Eksekutif Paseban Foundation, menegaskan tantangan besar konservasi di Jawa — sebuah pulau terpadat di tanah air, di mana tekanan terhadap ruang alami semakin tinggi seiring pembangunan.

Meski demikian, Megamendung tetap menjadi satu dari segelintir kawasan yang masih berhasil mempertahankan kelima primata tersisa dalam satu bentang alam yang utuh. Pencapaian ini menandai posisi Megamendung bukan hanya sebagai “kantong kehidupan” primata, melainkan juga rumah bagi spesies penting lain seperti Elang Jawa serta Macan Tutul Jawa, di samping keragaman flora dan fauna hutan tropis pegunungan yang lain.

Berlokasi dekat Jakarta dan bagian dari kawasan Cagar Biosfer Cibodas, Megamendung memang menanggung risiko yang besar, menjadi zona penyangga antara aktivitas manusia dan habitat liar. Konsep biosfer yang diterapkan merangkul gagasan pengelolaan multi-zona — dari inti perlindungan, zona penyangga, hingga ruang interaksi sosial-ekonomi — sehingga mewajibkan adanya keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan.

Keragaman satwa tidak bisa dilepaskan dari interaksi ekosistem yang luas: kondisi vegetasi, jaringan air, akses ruang gerak fauna, bahkan pemanfaatan lahan oleh manusia. Sebagaimana dijabarkan oleh Wiratno selaku Penasihat Paseban Foundation, ekosistem tidak mengenal batas administrasi, baik sungai maupun satwa bebas bergerak mengikuti kebutuhan hidupnya.

Dengan latar itu, kekompakan semua pihak menjadi mutlak. Pemerintah, warga setempat, swasta, perguruan tinggi, dan pegiat lingkungan perlu membangun model pengelolaan bersama berbasis ekosistem. Salah satu bentuk kolaborasi ini ialah program penanaman pohon endemik di Megamendung yang telah mencapai lebih dari 21.000 bibit pohon sampai Agustus 2026, dengan harapan menghidupkan kembali karakter asli tutupan hutan.

Selain fokus di habitat alami, Paseban Foundation kini merambah upaya pelestarian satwa di luar habitanya. Izin penangkaran non-komersial yang dimiliki membantu membiakkan beberapa jenis satwa. Salah satu kemajuan yang dicapai adalah lahirnya tiga anak rusa di unit penangkaran, yang kelak direncanakan akan dilepasliarkan ke hutan Megamendung sebagai bentuk reintroduksi dan upaya memperbaiki rantai ekologi yang mulai renggang.

Tahapan pelepasliaran ini bukan proses sederhana. Setiap individu mesti melewati masa rehabilitasi, pelatihan insting alami, dan evaluasi habitat secara seksama, termasuk monitoring setelah pelepasan supaya tak menciptakan distorsi terhadap ekosistem alam maupun populasi setempat.

Andy Utama, pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, memaparkan tentang pentingnya napas panjang dan ketekunan dalam setiap program restorasi lingkungan. Ia menyampaikan bahwa mereka telah meluncurkan Megamendung Century Initiative sebagai visi jangka satu abad ke depan, demi memulihkan peran ekologis bentang alam Megamendung agar mampu menyokong kehidupan seperti di masa lalu.

Upaya ini bukan untuk mengulang masa silam secara utuh, tetapi berfokus membangun kembali kelengkapan habitat, keterhubungan antarsatwa, vegetasi, cadangan air, serta harmoni komunitas lokal yang bergantung pada alam. Andy menegaskan bahwa pekerjaan besar semacam ini mustahil rampung dalam waktu singkat, dan harus diwariskan ke generasi berikutnya agar kesinambungan lingkungan tetap terjaga.

“Kita harus berpikir lintas generasi. Kerja konservasi bukan sekadar proyek, melainkan tongkat estafet yang harus selalu diteruskan. Agar alam Megamendung tetap hidup, estafet perjuangan harus berjalan terus,” tutur Andy, mengajak warga untuk terlibat dalam visi panjang memulihkan hutan Jawa.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER