Sunday, May 10, 2026
HomeLainnyaAIHII Jabodetabek Perluas Kesadaran Mahasiswa soal Konflik Dunia

AIHII Jabodetabek Perluas Kesadaran Mahasiswa soal Konflik Dunia

Wacana tentang kemungkinan terjadinya perang dunia kembali muncul ke permukaan, tak hanya menghiasi percakapan di media sosial, namun juga menjadi bahasan dalam keseharian masyarakat, khususnya generasi muda yang kini semakin waspada pada isu global yang berkembang pesat. Kekhawatiran inilah yang menjadi alasan utama digelarnya IR Youth Talks#1 yang diinisiasi oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek di Universitas Indonesia pada 21 April 2026.

Acara yang mengambil tema “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global” ini bertujuan memberikan ruang diskusi terbuka seputar tantangan dan peluang Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian dunia internasional. Salah satu tokoh penggerak diskusi, Anggy Pasaribu, yang dikenal sebagai jurnalis sekaligus pendiri “Story of Anggy”, mengawali pembicaraan dengan mengajak peserta untuk mengkaji ulang dasar kekhawatiran masyarakat akan pecahnya konflik global skala besar dalam waktu dekat.

Alih-alih menumbuhkan pesimisme, diskusi justru diarahkan pada upaya membangun pemahaman mendalam terhadap isu global dan menahan diri dari asumsi yang serba terburu-buru. Sikap ini ditekankan pula oleh Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI, yang menegaskan perlunya generasi muda untuk tidak mudah terjebak pada narasi spekulatif seputar perang dunia, melainkan mulai mempersiapkan diri dalam menghadapi potensi krisis multidimensi yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba.

Menurut Aloysius, Lemhannas telah sejak lama merancang pendekatan sistematis melalui net assessment, skenario strategis, dan evaluasi kerentanan nasional untuk memetakan ancaman global. Hasil kajian mereka menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi risiko yang nyata, seperti ketergantungan tinggi pada impor energi dan pangan, serta posisi strategis negara yang berpotensi diseret ke dalam pertarungan geopolitik besar di kawasan Indo-Pasifik.

Dampak dari situasi global pun dinilai langsung terasa, dari kenaikan harga-harga kebutuhan pokok akibat isu energi, hingga potensi gangguan pada kestabilan nasional. Dalam situasi seperti ini, Aloysius menekankan, kekuatan ideologi Pancasila menjadi pondasi utama yang memperkokoh bangsa agar tetap tangguh dalam menghadapi tekanan eksternal maupun internal. Ia percaya, selama nilai-nilai Pancasila terjaga, Indonesia tak akan mudah terombang-ambing akibat guncangan politik dunia.

Dari sudut pandang akademisi, Broto Wardoyo selaku Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, menilai bahwa peristiwa konflik global yang kini terjadi lebih tepat disebut sebagai fase transisi tatanan dunia daripada sebuah sinyal menuju perang dunia ketiga. Ia mendorong mahasiswa dan peserta forum untuk mengamati dinamika ini dari perspektif teoritis yang holistik, bukan sekadar bersikap reaktif.

Broto menyoroti keterkaitan antara krisis yang satu dengan yang lain—mulai dari konflik antarnegara, persoalan distribusi energi, dampak kebijakan luar negeri negara-negara besar seperti kebijakan Donald Trump, hingga tekanan ekonomi global—semuanya saling mempengaruhi dan mempercepat ketidakpastian sistem internasional. Dalam konteks inilah, Broto memperkenalkan strategi resilience-based hedging, yakni gabungan dari adaptasi diplomasi yang luwes dengan penguatan struktur dalam negeri, demi memastikan daya tahan Indonesia di tengah tekanan global.

Acara IR Youth Talks ini menjadi jembatan antara kalangan pembuat kebijakan, akademisi, serta pelajar lintas universitas—Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Binus, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur—untuk saling bertukar pikiran. Dalam sambutan pembuka, Jeanne Francoise dari President University menegaskan pentingnya keterlibatan anak muda dalam diskursus Hubungan Internasional agar lebih siap menghadapi tantangan global yang dampaknya akan langsung mereka rasakan.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa isu dunia bukan hak eksklusif kalangan tertentu saja; justru, generasi muda perlu memupuk pemahaman kritis agar mampu memilih sikap yang tepat saat menghadapi krisis global. Anggy turut mengingatkan, ruang dialog publik harus dimanfaatkan secara sehat; kritik konstruktif dan etika dalam menyampaikan pendapat sangat diperlukan guna mendorong solusi, bukan sekadar memperkeruh suasana.

Pada akhirnya, semua pihak dalam forum ini sepakat bahwa ketidakpastian dunia internasional memang tidak bisa dihindari, namun kecerdasan dalam membaca situasi, keterbukaan dalam berdialog, serta kesiapan mental dan intelektual jauh lebih penting ketimbang larut dalam kecemasan berlebihan. Dengan demikian, Indonesia bisa terus beradaptasi dan berkembang meski diterpa berbagai dinamika dunia yang serba berubah.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER